Langkah Kuda
Esai Panjang

Apa itu Apa?

Tentang Pertanyaan, Keyakinan dan Keberanian Mencari Kebenaran

Apa itu Apa?
Apa itu Apa? Gambar oleh Chatgpt
Sering kali, begitu sibuknya mempertanyakan segala sesuatu, manusia sampai lupa mempertanyakan pertanyaannya sendiri.

Kita menuntut jawaban, mengklaim kebenaran, bahkan berani mempertaruhkan keyakinan. Namun, pernahkah terpikir bahwa sesuatu yang paling jarang dipertanyakan justru menjadi dasar dari semua pertanyaan itu?

Beberapa tahun lalu, di Bandung, saya terlibat percakapan dengan dua orang teman. Kami membicarakan banyak hal, terutama kebiasaan manusia mempertanyakan segala sesuatu. Tidak ada forum ilmiah, tidak ada makalah yang harus dipertahankan. Hanya percakapan sederhana di sebuah tempat sederhana, ketika pertanyaan bergulir dari satu hal ke hal lain.

Ketika orang berbicara tentang Tuhan, misalnya, seseorang dapat bertanya, “Apa itu Tuhan?”

“Tuhan adalah Pencipta,” jawab yang lain.

“Lalu, apa itu Pencipta?”

“Dia yang menciptakan segala sesuatu.”

“Kalau begitu, apa itu segala sesuatu?”

Setiap jawaban ternyata masih menyimpan kata-kata yang dapat ditanyakan kembali. Satu pengertian dipakai untuk menjelaskan pengertian lain, lalu pencarian diteruskan seolah-olah suatu saat semua pertanyaan akan habis.

Di tengah percakapan itu, saya justru terpikir sesuatu: manusia terus bertanya tentang segala sesuatu, tetapi pernahkah pertanyaannya sendiri diperiksa? Apakah kita benar-benar memahami apa yang sedang ditanyakan?

Maka saya melontarkan kalimat yang mungkin terdengar konyol:

“Apa itu apa?”

Barangkali orang dapat menjawabnya dengan mudah. Apa adalah kata tanya. Selesai.

Namun, yang mengganggu pikiran saya bukan semata-mata arti sebuah kata. Saya sedang memikirkan mengapa manusia bertanya, bagaimana sesuatu diketahui, dan mengapa sebuah jawaban kadang membuat seseorang berhenti berpikir, padahal masih banyak yang belum dipahami.

Bertanya Sebelum Memahami

Manusia bertanya karena ingin mengetahui sesuatu. Namun, tidak semua pertanyaan lahir dari sesuatu yang telah dipahaminya. Ada kalanya seseorang bertanya tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang dicari, bahkan tanpa membayangkan jawaban seperti apa yang akan diperoleh.

Kadang, rasa ingin tahu datang lebih dahulu daripada pengertian.

Seorang anak yang pertama kali melihat pelangi mungkin bertanya, “Itu apa?” Dia belum mengenal pembiasan, dispersi cahaya, atau bagaimana tetesan air menghasilkan warna-warna yang terlihat di langit. Dia bahkan belum tahu istilah apa yang diperlukan untuk memahami peristiwa itu.

Dia hanya melihat sesuatu yang mengundang rasa heran.

Jawaban sederhana dari orang tuanya mungkin cukup memuaskan rasa ingin tahunya hari itu. Tetapi jawaban tersebut dapat melahirkan pertanyaan lain: mengapa cahaya memiliki banyak warna? Mengapa pelangi muncul sesudah hujan?

Dari satu pertanyaan kecil, terbuka jalan menuju pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan.

Aristoteles, dalam Metaphysics, menghubungkan awal kegiatan berfilsafat dengan rasa heran. Manusia tidak perlu lebih dahulu menguasai suatu persoalan untuk mulai menyelidikinya. Sering kali justru karena tidak paham, pertanyaan muncul.

Karena itu, saya tidak menganggap manusia harus memahami seluruh hakikat pertanyaannya sebelum boleh mengajukannya. Pencarian dapat dimulai dari ketidaktahuan, lalu perlahan memperjelas apa yang sebenarnya ingin diketahui.

Lanjutkan membaca secara gratis

Anda telah membaca 30% artikel ini. Masuk dengan Google untuk membaca seluruh tulisan secara gratis.

Lanjut Baca Gratis
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

2 reaksi 77 clap 4 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan Redaksi

Bacaan Terkait

Tulisan lain yang berkaitan dengan topik bahasan ini.