Langkah Kuda
Investigasi

Segala Sesuatu adalah Sia-Sia

Kitab Pengkhotbah Membongkar Kerja, Ambisi, dan Ilusi Manusia tentang Keberhasilan

Kesia-siaan dan Usaha Menjaring Angin
Kesia-siaan dan Usaha Menjaring Angin Dokumentasi Pribadi

Manusia bisa bekerja keras, memenangkan persaingan, memperoleh jabatan, mengumpulkan kekayaan, bahkan menjatuhkan orang lain demi keberhasilan; tetapi Pengkhotbah mengingatkan bahwa ketika semua itu dijadikan tujuan terakhir hidup, yang sedang kita kejar hanyalah hevel: kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

Barangkali tidak ada kalimat yang lebih sering bergema dalam kitab Pengkhotbah daripada ini: “Segala sesuatu adalah sia-sia.”

Kalimat itu terdengar muram. Sekilas bahkan terasa seperti kesimpulan seseorang yang sudah menyerah terhadap hidup. Namun Pengkhotbah bukan kitab tentang manusia yang kehilangan alasan untuk hidup. Sebaliknya, kitab itu adalah perenungan seseorang yang telah melihat hidup dari dekat, menikmati banyak hal yang ditawarkan dunia, lalu mulai bertanya: setelah semuanya diperoleh, apa yang sebenarnya tersisa?

Dalam pembacaan tradisional Yahudi dan Kristen, suara Pengkhotbah dikaitkan dengan Salomo, “anak Daud, raja di Yerusalem”. Gambaran dalam kitab ini memang sangat dekat dengan kehidupan seorang raja seperti Salomo: hikmat, kekayaan, rumah-rumah besar, kebun, taman, kolam, ternak, emas, hiburan, serta berbagai pekerjaan besar yang dibangun oleh tangannya.

Salomo bukan seseorang yang menyebut dunia sia-sia karena tidak pernah merasakan keberhasilan. Justru sebaliknya, ia pernah berada di tempat yang ingin dicapai banyak manusia. Namun ketika ia memandang semua yang telah dikerjakannya, satu kata terus kembali:

Hevel. Segala sesuatu adalah sia-sia.

Kata Ibrani hevel biasanya diterjemahkan sebagai “sia-sia”. Tetapi arti dasarnya lebih dekat kepada napas, embusan, atau uap.

Bayangkan napas yang terlihat pada pagi yang dingin. Ia nyata. Kita dapat melihatnya, tetapi tidak dapat menyimpannya selamanya di dalam genggaman karena beberapa saat kemudian ia menghilang. Di situlah kekuatan gambaran Pengkhotbah.

Pengkhotbah tidak sedang mengatakan bahwa hidup tidak nyata atau tidak berharga. Ia sedang mengatakan bahwa banyak hal dalam hidup bersifat sementara, sulit dikuasai, dan tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.

Uap, angin, napas, bukan tidak nyata, hanya tidak dapat digenggam, ditangkap, dan dimiliki selamanya

Karier itu nyata. Prestasi nyata. Kekayaan nyata. Pengakuan manusia juga nyata. Tetapi semuanya memiliki batas. Masalah muncul ketika manusia meminta kepada sesuatu yang sementara untuk memberikan kepadanya sesuatu yang permanen.

Itulah sebabnya Pengkhotbah memakai gambaran lain yang sangat kuat: usaha menjaring angin.

Kita dapat merasakan angin, mengetahui arahnya, bahkan memanfaatkannya. Tetapi siapa pun yang mencoba mengepalkan tangannya lalu berkata, “Angin ini sekarang milikku,” sedang berhadapan dengan sesuatu yang memang tidak pernah diciptakan untuk dimiliki seperti itu.

Kerja yang Berubah Menjadi Persaingan

Di tengah perenungannya, Pengkhotbah kemudian menulis dalam Pengkhotbah 4:4:

“Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.”

Ayat ini menarik karena Pengkhotbah tidak sedang berbicara tentang orang malas. Ia melihat jerih payah dan kecakapan. Ada kerja keras, kemampuan, bahkan mungkin prestasi. Tetapi ia melihat lebih dalam daripada hasil pekerjaan. Ia melihat apa yang menggerakkan manusia.

Kerja keras dapat lahir dari tanggung jawab, tetapi juga dapat lahir dari iri hati. Keinginan untuk menjadi lebih baik bisa saja bagus, tetapi dapat pula berubah menjadi kebutuhan untuk selalu menjadi lebih baik daripada orang lain.

Ketika itu terjadi, ukuran keberhasilan mulai bergeser. Tidak cukup saya berkembang, saya harus melampauinya. Tidak cukup saya berhasil, maka dia harus gagal. Tidak cukup saya berdiri, dia harus berada di bawah saya. Jika saya tidak sanggup bersaing, dia harus disingkirkan.

Pengkhotbah menyebut perlombaan seperti itu hevel. Bukan karena bekerja adalah sia-sia, melainkan karena manusia sedang mencari melalui pekerjaan sesuatu yang tidak pernah dapat diberikan oleh pekerjaan.

Lalu apakah jawabannya adalah berhenti mengejar karier dan hidup seadanya?

Tidak.

Ayat berikutnya justru mengecam orang bodoh yang “melipat tangannya”. Pengkhotbah sama sekali tidak memuliakan kemalasan. Kemudian ayat 6 memberi keseimbangan yang indah:

“Segenggam ketenangan lebih baik daripada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.”

Masih ada segenggam. Masih ada pekerjaan. Masih ada hasil.

Yang dikritik adalah dua tangan yang terus berusaha dipenuhi, tetapi tidak pernah mengenal kata cukup. Karena itu pertanyaan terpenting tentang pekerjaan bukan hanya, “Seberapa keras saya bekerja?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah: “Untuk apa saya bekerja?”

Ketika Kualitas Bukan Subjek Utama Persaingan

Bayangkan sebuah tempat kerja. Beberapa orang memiliki kemampuan yang berbeda dan bersaing secara sehat melalui kualitas pekerjaan. Mereka berusaha lebih teliti, lebih kompeten, lebih kreatif, dan lebih mampu menyelesaikan persoalan.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun suatu saat seseorang merasa bahwa memenangkan persaingan melalui kualitas akan sulit. Maka arena pertandingan perlahan berubah. Yang diserang bukan lagi pekerjaan, melainkan kredibilitas orang yang dianggap sebagai pesaing. Kesalahan kecil dikumpulkan. Sebuah cerita dibawa kepada atasan tanpa konteks yang utuh. Kedekatan dengan orang yang memiliki kuasa dipelihara, sementara reputasi rekan kerja dikikis sedikit demi sedikit.

Jika sulit menjadi lebih tinggi melalui kualitas, barangkali cara yang lebih mudah adalah membuat orang lain terlihat lebih rendah.

Dan orang itu mungkin berhasil.

Ia mungkin mendapatkan posisi yang diinginkan. Ia mungkin memperoleh kepercayaan atasan. Orang yang dianggap pesaing bahkan mungkin benar-benar tersingkir.

Tetapi Pengkhotbah tidak berhenti pada pertanyaan apakah strateginya berhasil. Pengkhotbah bertanya sesuatu yang lebih besar: Lalu apa?

Sebab hevel tidak berarti bahwa semua orang yang berbuat jahat selalu langsung gagal. Dunia tidak selalu bekerja sesederhana itu. Ada ketidakadilan yang berhasil. Ada manipulasi yang mendatangkan keuntungan. Ada orang yang memperoleh apa yang dikejarnya dengan cara yang tidak benar.

Justru karena itu, gambaran “menjaring angin” menjadi semakin tajam.

Tidak semua usaha menjaring angin berakhir dengan kegagalan. Ada orang yang berhasil mendapatkan apa yang dikejarnya, tetapi kemudian menemukan bahwa yang berhasil ia tangkap tetaplah angin.

Jabatan akan berpindah. Kekuasaan akan berakhir. Nama yang hari ini dianggap penting suatu saat menjadi arsip. Orang lain akan duduk di kursi yang dahulu kita perjuangkan begitu keras.

Hevel.

Bukan karena semua itu tidak bernilai, tetapi karena tidak satu pun dapat dijadikan dasar terakhir hidup manusia.

Semua yang Tersembunyi Akan Dibawa kepada Allah

Pengkhotbah tidak menutup kitabnya dengan keputusasaan. Setelah berbicara tentang kerja, kenikmatan, hikmat, kekayaan, ketidakadilan, masa muda, usia tua, dan kematian, ia tiba pada sebuah kesimpulan:

“Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya.”

Lalu datang kalimat yang membuat seluruh pembicaraan tentang keberhasilan memperoleh ukuran baru:

“Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan, bahkan segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”

Di sana ukuran hidup tidak lagi ditentukan oleh promosi, jabatan, penilaian atasan, atau siapa yang memenangkan persaingan. Manusia bekerja di hadapan manusia, tetapi pada akhirnya ia hidup di hadapan Allah.

Karena itu pertanyaan terakhir dalam hidup bukan sekadar, “Apakah aku mendapatkan apa yang kuinginkan?” melainkan: “Menjadi manusia seperti apa aku ketika mengejarnya?”

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Bangunlah sesuatu yang baik. Kembangkan kemampuanmu. Jangan malas. Jangan takut menjadi unggul.

Tetapi jangan pernah mengorbankan kebenaran, hati nurani, dan sesamamu demi sesuatu yang tidak dapat kaupertahankan selamanya.

Sebab mungkin kita dapat memiliki banyak hal dalam hidup. Tetapi ketika sesuatu yang seharusnya dinikmati mulai kita paksa menjadi sumber keamanan, identitas, dan nilai diri, kita sedang melakukan apa yang sejak ribuan tahun lalu sudah dilihat oleh Pengkhotbah: mencoba menggenggam uap dan menjaring angin.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

4 reaksi 152 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →