Langkah Kuda
Esai Panjang

Sebelum Indonesia bernama Indonesia: Manusia Mulai Bercerita

Lukisan Bison Altamira dan Babi di Sulawesi
Lukisan Bison Altamira dan Babi di Sulawesi Chatgpt
Sejarah bukan hanya kumpulan tarikh yang menjelaskan kapan sesuatu terjadi. Sejarah juga merupakan perjalanan panjang keputusan manusia yang membentuk kebudayaan, tradisi, dan dunia yang kita warisi hari ini. Tetapi seberapa jauh kita dapat menelusuri perjalanan itu, ketika tulisan bahkan belum ditemukan?

Pada Mulanya ada Kehidupan, Lalu Nama

Ada sesuatu yang menarik ketika kita memandang peta Indonesia. Ribuan pulau membentang dari barat ke timur, dengan nama, batas wilayah, bahasa, dan identitas yang sekarang terasa begitu akrab. Kita mempelajari sejarahnya melalui kerajaan-kerajaan, jalur perdagangan, kedatangan bangsa Eropa, perjuangan kemerdekaan, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945.

Namun pernah ada masa ketika semua nama itu belum dikenal. Belum ada Indonesia, Jawa, Sumatera, NTT atau Sulawesi dalam pengertian geografis dan politik seperti sekarang. Tetapi manusia telah hidup di wilayah ini jauh sebelumnya.

Dalam tulisan saya sebelumnya, Sebelum Spanyol dan Portugal Ada, saya pernah menulis: Sebuah bangsa tidak lahir begitu saja. Sebelum ada negara, yang ada hanyalah bentangan tanah. Sebelum ada identitas, yang ada hanyalah perjalanan.

Gagasan itu rupanya tidak hanya berlaku bagi Semenanjung Iberia. Gagasan itu juga mengundang kita melihat kembali tanah yang sekarang kita sebut Indonesia, menelusuri masa ketika manusia belum mengenal kerajaan, bahkan belum memiliki sistem tulisan untuk mencatat kehidupannya.

Dan untuk memulai perjalanan itu, kita perlu kembali sebentar ke sebuah gua di Spanyol.

Altamira: Masa Lalu yang Tidak Dipercaya

Pada 1879, Marcelino Sanz de Sautuola bersama putrinya, Maria, mengunjungi Gua Altamira di Cantabria, Spanyol. Dalam kisah penemuan yang terkenal itu, Maria memperhatikan lukisan-lukisan hewan pada langit-langit gua, terutama bison yang digambarkan dengan warna merah dan hitam.

Lukisan tersebut memperlihatkan keterampilan yang mengagumkan. Para pembuatnya memanfaatkan bentuk alami permukaan batu untuk memberi kesan volume pada tubuh hewan. Hasilnya, terlihat seperti lukisan 3D modern.

Sautuola meyakini bahwa karya-karya itu berasal dari masa prasejarah. Namun pendapatnya ditolak oleh sejumlah ilmuwan. Sebagian besar meragukan bahwa manusia zaman batu memiliki kemampuan artistik sedemikian tinggi. 

Sautuola meninggal pada 1888, sebelum penemuan itu memperoleh pengakuan luas.

Kini penelitian menunjukkan bahwa kegiatan seni di Altamira berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. Beberapa tanda berwarna merah berusia setidaknya sekitar 35.000 tahun, sedangkan lukisan bison polikrom yang terkenal berasal dari masa yang lebih muda, sekitar 14.500 tahun lalu.

Saya pernah menuliskan sebuah refleksi tentang Altamira: Bukti sudah ada di depan mata, tetapi manusia sering menolaknya karena bertentangan dengan apa yang ingin dia percayai.

Ada pelajaran penting di sana. Pengetahuan manusia selalu dapat diperbaiki ketika bukti baru ditemukan. 

Dan jauh dari Altamira, di sebuah pulau tropis Asia Tenggara, penemuan arkeologi membawa kita kepada masa yang bahkan lebih tua.

Sulawesi: Seekor Babi dari 51.200 Tahun Lalu

Di kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, terdapat gua bernama Leang Karampuang. Pada permukaan batu kapurnya, manusia prasejarah meninggalkan lukisan yang memperlihatkan seekor babi bersama tiga figur menyerupai manusia.

Babi tersebut merupakan hewan yang dikenal di lingkungan Sulawesi. Sementara figur-figur di sekitarnya tampak membentuk suatu komposisi, bukan sekadar gambar yang berdiri sendiri.

Pada 3 Juli 2024, penelitian yang dipimpin Adhi Agus Oktaviana dan sejumlah peneliti Indonesia serta internasional diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature. Melalui metode penanggalan uranium-series berbantuan laser, mereka menyimpulkan bahwa gambar adegan tersebut berusia setidaknya 51.200 tahun. 

Angka itu membawa kita ke masa yang sangat jauh.

Ketika gambar tersebut dibuat, piramida Mesir belum berdiri. Kekaisaran Romawi belum dikenal. Kerajaan-kerajaan yang kelak tumbuh di Nusantara masih terpisah oleh puluhan ribu tahun. 

Tetapi seseorang telah menggambar. 

Kita tidak mengetahui siapa pembuatnya, bahasa apa yang digunakannya, atau alasan ia memilih babi sebagai objek lukisan. Para peneliti menafsirkan susunan gambar itu sebagai bentuk awal penceritaan visual, meskipun makna peristiwanya belum dapat dipastikan.

Mungkin gambar tersebut berkaitan dengan pengalaman berburu, hubungan manusia dengan hewan, atau cerita yang hidup dalam komunitasnya. Semua kemungkinan itu menarik, tetapi belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Yang dapat kita ketahui adalah bahwa manusia pada masa tersebut telah memiliki kemampuan menciptakan representasi visual yang kompleks.

Mereka mengamati lingkungan, mengenali bentuk makhluk hidup, lalu menghasilkan gambar yang dapat dilihat orang lain.

Saya membayangkan ada keputusan sederhana yang mendahului tindakan itu: seseorang memilih untuk menggambar sesuatu yang dianggapnya layak digambarkan. Kita tidak mengetahui alasannya. Tetapi hasil tindakan tersebut masih dapat kita lihat setelah lebih dari 50 milenium. 

Lukisan Tangan Tertua

Penemuan Sulawesi ternyata tidak berhenti di Leang Karampuang.

Pada 21 Januari 2026, jurnal Nature menerbitkan penelitian baru mengenai seni cadas di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Para peneliti menemukan bukti bahwa sebuah cetakan tangan pada permukaan gua berusia setidaknya 67.800 tahun. Penanggalan dilakukan dengan menganalisis lapisan mineral kalsit yang terbentuk di atas gambar. Karena mineral tersebut terbentuk setelah gambar dibuat, hasilnya memberikan batas usia minimum, bukan tanggal pasti pembuatan gambar.

Cetakan tangan itu mungkin lebih tua.

Berbeda dari adegan babi di Leang Karampuang, gambar ini tidak memperlihatkan hubungan beberapa figur. Itu merupakan bentuk tangan yang dihasilkan dengan menempatkan tangan pada permukaan batu dan meninggalkan pigmen di sekelilingnya. Kita tidak mengetahui apakah tindakan tersebut merupakan bagian dari ritual, penanda identitas, atau kebiasaan random lain dalam kehidupan komunitasnya.

Namun ada kenyataan yang tak dapat diabaikan. Manusia yang meninggalkan jejak itu telah lama meninggal. Namanya tidak pernah kita ketahui. Tidak ada prasasti yang mencatat kehidupannya. Tetapi bentuk tangannya bertahan.

Kita mengenal nama raja-raja melalui monumen, catatan peperangan, dan peninggalan kerajaan. Sementara jauh sebelum semua itu, seseorang yang tidak memiliki tempat dalam sejarah tertulis justru meninggalkan salah satu jejak visual tertua yang diketahui manusia.

Bison dan Babi: Manusia Menggambarkan Dunianya

Ada hubungan yang menarik antara Altamira dan Sulawesi.

Di Spanyol, manusia menggambarkan bison yang hidup di lingkungan mereka. Di Sulawesi, manusia menggambar babi yang menjadi bagian dari dunia tropis tempat mereka tinggal. 

Kedua wilayah dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, lingkungan berbeda, dan perjalanan budaya yang tidak dapat begitu saja disamakan. Tidak ada bukti bahwa para pembuat lukisan tersebut pernah saling berhubungan. Namun keduanya memperlihatkan kemampuan yang mendasar dalam kehidupan manusia: mengubah sesuatu yang diamati menjadi gambar yang dapat dikenali.

Mengapa manusia melakukannya? Bukankah hewan-hewan itu sudah dapat mereka lihat di alam?

Barangkali jawaban pertanyaan tersebut berhubungan dengan kemampuan manusia memberikan makna kepada pengalamannya. Hewan tidak lagi hanya hadir sebagai sesuatu yang ditemui, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat digambarkan, dikenali kembali, dan mungkin dibicarakan bersama.

Gambar berbeda dengan bahasa lisan. Representasi visual memungkinkan pengalaman seseorang hadir di hadapan orang lain, bahkan ketika pembuatnya tidak berada di sana.

Dalam perkembangan manusia, kemampuan menggunakan simbol menjadi salah satu unsur penting yang memungkinkan pengetahuan dan kebudayaan diwariskan. 

Kita tidak dapat membuktikan bahwa para pelukis Altamira atau Sulawesi bermaksud berbicara kepada generasi masa depan. Tetapi karya mereka memperlihatkan bahwa manusia telah mengembangkan cara untuk merepresentasikan dunia jauh sebelum munculnya sejarah tertulis.

Mungkin di sinilah letak persamaan paling menarik antara bison dan babi itu. Bukan karena sama-sama hewan, melainkan pada kemampuan, filosofi dan kecerdasan manusia yang menggambarkannya. 

Sejarah Indonesia Sebelum Indonesia Ada

Penemuan Sulawesi mengingatkan kita bahwa sejarah kehidupan manusia di wilayah Indonesia tidak dimulai ketika kerajaan pertama berdiri, ataupun ketika nama Indonesia diperkenalkan. Kerajaan, prasasti, dan dokumen tertulis memang memungkinkan kita mengenali nama penguasa, peristiwa politik, dan hubungan antarmasyarakat dengan lebih jelas. Namun ketiadaan tulisan bukan berarti ketiadaan sejarah kehidupan. Jauh sebelumnya, manusia telah beradaptasi dengan lingkungan, mengembangkan peralatan, membentuk hubungan sosial, dan menghasilkan berbagai bentuk kebudayaan.

Tentu kita tidak boleh menyebut pembuat lukisan Sulawesi sebagai orang Indonesia dalam pengertian kebangsaan modern. Indonesia adalah identitas politik yang terbentuk puluhan ribu tahun kemudian. 

Kita juga tidak dapat menyimpulkan bahwa lukisan tersebut membuktikan adanya kerajaan atau peradaban maju sebagaimana dipahami dalam sejarah masyarakat perkotaan. Tapi bukti itu sudah cukup untuk menggugurkan anggapan bahwa wilayah ini baru memiliki kehidupan budaya yang berarti setelah munculnya kerajaan atau kedatangan pengaruh dari luar. Sejarah manusia di tanah ini jauh lebih panjang.

Kita tidak perlu mengarang kejayaan yang tidak didukung bukti. Penemuan yang telah dibuktikan secara ilmiah justru memberi alasan yang lebih kuat untuk menghargai masa lalu. 

Dalam tulisan saya tentang Aristoteles dan Ptolemy, saya pernah mengingatkan bahwa semakin lama sebuah asumsi tidak digugat, semakin mudah menyerupai kebenaran. 

Penemuan Altamira dan Sulawesi memberi pelajaran yang serupa. Sejarah pengetahuan berkembang ketika manusia bersedia memeriksa kembali apa yang sebelumnya dianggap telah dipahami.

Keputusan Manusia dan Sejarah yang Kita Warisi

Semakin jauh saya mempelajari sejarah, semakin saya memahami bahwa tarikh hanyalah salah satu cara untuk membacanya. Tarikh memberi tahu kapan suatu peristiwa terjadi. Namun untuk memahami bagaimana dunia berubah, kita harus mempelajari tindakan manusia, hubungan antarmasyarakat, keadaan alam, serta berbagai pilihan yang diambil dalam menghadapi kehidupan.

Tidak semua perubahan lahir dari keputusan manusia. Iklim, geografi, penyakit, dan berbagai peristiwa alam turut menentukan arah sejarah. Bahkan banyak keputusan manusia memiliki akibat yang tidak pernah dibayangkan oleh pembuatnya. Namun di tengah seluruh proses itu, manusia terus bertindak, menciptakan sesuatu, dan mewariskan pengetahuan.

Seseorang menggambar bison di Altamira. Seseorang menggambar babi di Sulawesi. Manusia lain meninggalkan bentuk tangannya pada batu.

Kita tidak mengetahui bagaimana tindakan-tindakan tersebut memengaruhi kehidupan komunitas mereka. Tetapi peninggalannya telah membantu generasi kita memahami bahwa kemampuan manusia menciptakan gambar dan kemungkinan menyampaikan cerita memiliki sejarah yang sangat panjang.

Dan mungkin itulah sebabnya saya selalu merasa bahwa sejarah tidak cukup dipahami sebagai kumpulan nama dan angka. 

Jika sejarah adalah rangkaian keputusan manusia, berapa banyak keputusan dari masa lalu yang masih hidup dalam diri kita hari ini, meskipun nama orang-orang yang membuatnya telah lama dilupakan?

Barangkali kita tidak akan pernah mengetahui nama orang yang melukiskan babi di Sulawesi, sebagaimana kita tidak mengetahui siapa yang menggambar bison di Altamira. Tetapi puluhan ribu tahun kemudian, kita masih mempelajari hasil tindakan mereka, mempertanyakan maknanya, dan menggunakan pengetahuan itu untuk memahami perjalanan manusia.

Sebelum Indonesia memiliki nama, kehidupan telah berlangsung di tanah ini. Sebelum kerajaan meninggalkan prasasti, manusia telah meninggalkan gambar. Dan sebelum sejarah mulai dituliskan, manusia telah menjalani kehidupan yang kemudian menjadi bagian dari masa lalu kita. 

Mereka tidak mengetahui bahwa suatu hari tanah tempat mereka hidup akan menjadi bagian dari negara bernama Indonesia. Namun ketika kita memandang lukisan-lukisan itu sekarang, kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua daripada nama negara mana pun: jejak kemampuan manusia untuk mengamati, menciptakan, dan memberi bentuk kepada pengalamannya.

Sebab sejarah bukan hanya tentang siapa yang pernah hidup. Sejarah juga tentang apa yang dilakukan manusia, apa yang ditinggalkannya, dan bagaimana semua itu membantu kita memahami keberadaan kita hari ini.
Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

4 reaksi 150 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →