Langkah Kuda
A Brief History of Time: Perjalanan bersama buku #1 NYT Bestseller
Part 1: Universe

Our Picture of the Universe: Bagaimana Kita Melihat Semesta?: Ketika Bumi Menjadi Pusat Semesta: Aristoteles, Ptolemy, dan Bahaya Sebuah Asumsi

Bab 2 dari 3
Lihat Daftar Isi →
Investigasi

Bumi Menjadi Pusat Semesta: Bahaya Sebuah Asumsi

Model Tata Surya yang dipikirkan oleh Ptolemy
Model Tata Surya yang dipikirkan oleh Ptolemy https://study.com/academy/lesson/ptolemy-and-the-ptolemaic-system.html
Semakin lama sebuah asumsi tak digugat, semakin menyerupai kebenaran. Dan kebenaran yang seperti itulah yang akan menjadi tempat paling nyaman di mana kekeliruan bersembunyi.

Ada satu cara yang sangat mudah untuk membuktikan bahwa Bumi tidak bergerak dan menjadi pusat edar semua benda langit: berdirilah di halaman rumah, diam sebentar, lihat tanah di bawah kaki, perhatikan pohon, bangunan, gunung.

Tidak ada sesuatu yang terasa sedang melaju dengan kecepatan luar biasa.
Kita tidak terlempar.
Air di dalam gelas tidak terbuang ke arah barat.
Burung tetap dapat kembali ke sarangnya.

Kemudian tengadahkan kepala: Matahari muncul dari satu sisi langit, bergerak perlahan di atas kepala, lalu menghilang di sisi lainnya. Bulan melakukan perjalanan serupa. Bintang-bintang pun tampak bergerak melintasi malam.

Jika hanya mengandalkan pengalaman sehari-hari, kesimpulan yang paling alami justru bukan bahwa Bumi bergerak mengelilingi Matahari. Sebaliknya: Bumi tampak diam, sementara langit bergerak mengelilingi kita.

Dan selama berabad-abad, itulah salah satu gambaran paling kuat yang dimiliki manusia tentang semesta.


Pengamatan Bertemu Asumsi

Dalam tulisan sebelumnya, Manusia Mulai Bertanya: Dari Keheranan Menuju Pengetahuan, kita sampai pada sebuah pertanyaan yang agak mengganggu: jika orang-orang paling cerdas pada zamannya pernah memiliki gambaran tentang semesta yang kemudian harus diperbaiki, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa gambaran kita hari ini merupakan gambaran terakhir dan paling benar?

Untuk memahami pertanyaan itu, kita harus kembali kepada salah seorang pemikir terbesar dunia kuno: Aristoteles.

Menariknya, gambaran kosmos Aristoteles tidak seluruhnya dibangun dari spekulasi. Ia juga menggunakan pengamatan.

Dalam A Brief History of Time, Stephen Hawking menunjukkan dua di antaranya. Ketika terjadi gerhana Bulan, bayangan Bumi yang jatuh pada permukaan Bulan selalu berbentuk lingkaran. Aristoteles memahami bahwa hal tersebut merupakan petunjuk bahwa Bumi berbentuk bulat. Ia juga mengetahui bahwa posisi Bintang Utara tampak berubah ketika seseorang bergerak ke utara atau ke selatan.

Itu bukan cara berpikir yang buruk:
Ada fenomena.
Ada pengamatan.
Ada inferensi mengenai bentuk dunia.

Masalahnya muncul ketika pengamatan bercampur dengan asumsi yang tampak begitu wajar sehingga tidak lagi terasa seperti asumsi.

Dalam gambaran Aristoteles, Bumi yang bulat itu berada dalam keadaan diam di pusat semesta. Matahari, Bulan, planet, dan bintang bergerak mengelilinginya dalam orbit-orbit melingkar.

Mengapa lingkaran?

Sebagian jawabannya bukan berasal dari pengukuran, melainkan dari keyakinan filosofis bahwa lingkaran merupakan bentuk yang paling sempurna.

Kita dapat mengamati alam dengan benar, tetapi tetap membangun gambaran yang keliru jika asumsi yang menghubungkan pengamatan-pengamatan itu tidak pernah diperiksa kembali.

Ptolemy dan Sebuah Model yang Dianggap Benar

Beberapa abad kemudian, Claudius Ptolemy membawa gambaran geosentris itu menjadi jauh lebih canggih. Bumi ditempatkan di pusat. Di sekelilingnya terdapat Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus, dan akhirnya bola bintang-bintang tetap.

Dan yang membuat kisahnya jauh lebih menarik adalah: model itu nampaknya benar. Setidaknya cukup baik untuk kebutuhan astronomi pada zamannya.

Ptolemy bukan seseorang yang sekadar menunjuk langit lalu berkata, “Pokoknya Bumi di tengah.” Ia membangun sebuah model matematis yang dapat digunakan untuk memperkirakan posisi benda-benda langit. Hawking bahkan mencatat bahwa sistem tersebut memberikan prediksi yang cukup akurat mengenai posisi benda langit.

Jika sebuah model mampu menghasilkan prediksi yang baik, apakah itu berarti gambaran tentang realitas di balik model tersebut pasti benar?

Ini menghadirkan persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar cerita tentang teori lama yang kemudian digantikan teori baru. Dan pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi Ptolemy. Itu masih menghantui dunia fisika hingga hari ini.


Model yang Mulai Terasa Seperti Kenyataan

Ada perbedaan yang mudah terlupakan antara alam, pengamatan terhadap alam, dan model yang kita bangun untuk menjelaskan pengamatan tersebut. Kita tidak memegang gravitasi di tangan. Kita mengamati benda jatuh, planet bergerak, cahaya dibelokkan, atau instrumen memberikan angka tertentu. Dari pengamatan-pengamatan itu, manusia membangun konsep dan persamaan untuk menemukan keteraturan di balik fenomena tersebut.

Dalam Bab sebelumnya kita melihat Hawking mendefinisikan teori ilmiah sebagai model mengenai alam semesta, atau bagian darinya, bersama aturan yang menghubungkan besaran di dalam model dengan hasil pengamatan. Teori yang baik harus menjelaskan banyak observasi sekaligus menghasilkan prediksi yang dapat diuji.

Ptolemy memberi kita contoh yang sangat indah sekaligus berbahaya. Sebuah model dapat berguna. Sebuah model dapat bertahan sangat lama. Sebuah model bahkan dapat menghasilkan prediksi. Namun semua itu belum otomatis menjadikan setiap gambaran ontologis di baliknya sebagai kenyataan terakhir.

Sebuah model dapat berguna, bertahan sangat lama, bahkan menghasilkan prediksi. Namun keberhasilan sebuah model belum otomatis menjadikan gambaran realitas di baliknya sebagai kenyataan terakhir.

Bahaya Sebuah Asumsi

Barangkali persoalan terbesar bukan ketika manusia mengetahui bahwa ia sedang membuat asumsi. Yang lebih berbahaya adalah ketika sebuah asumsi telah digunakan begitu lama sehingga kita lupa bahwa ia pernah diasumsikan.

Bumi terasa diam, maka Bumi dianggap diam.
Langit tampak mengelilingi kita, maka langit dianggap benar-benar mengelilingi kita.
Gerakan melingkar dianggap sempurna, maka langit pun diharapkan bergerak dalam lingkaran.

Sedikit demi sedikit, pengamatan, matematika, filsafat, dan intuisi manusia menyatu menjadi sebuah picture of the universe.

Dan ketika gambaran itu berhasil menjelaskan cukup banyak hal, manusia memperoleh sesuatu yang sangat menggoda: alasan untuk berhenti bertanya.

Padahal mungkin justru pada saat sebuah teori terasa paling nyaman, pertanyaan yang paling penting adalah: asumsi apa yang sedang kita perlakukan sebagai kenyataan?

Itulah mengapa keheranan yang kita bicarakan pada Bab sebelumnya membutuhkan keraguan. Keheranan membuat manusia menengadah, sedangkan keraguan membuat manusia melihat sekali lagi. Dan dalam sejarah astronomi, pandangan kedua itu akhirnya datang.


Pusat Semesta Mulai Bergeser

Selama waktu yang sangat panjang, Bumi berada di tempat yang istimewa. Bumi bukan sekadar sebuah planet, ia adalah panggung utama. Matahari, Bulan, planet, dan bintang seolah memainkan pertunjukan kosmik di sekeliling manusia.

Lalu perlahan muncul sebuah kemungkinan yang jauh lebih tidak nyaman: bagaimana jika gerakan langit yang kita lihat bukan hanya menceritakan bagaimana langit bergerak, tetapi juga bagaimana kita sendiri bergerak?

Pada abad XVI, Nicolaus Copernicus menghidupkan kembali sebuah gagasan yang akan menggeser Bumi dari pusat gambaran kosmos. Namun bahkan itu belum cukup karena modelnya masih mempertahankan sesuatu yang diwarisi dari gambaran lama: keyakinan terhadap orbit melingkar.

Maka persoalannya ternyata bukan sekadar mengganti pusat dari Bumi menjadi Matahari. Yang sedang berubah adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara manusia memutuskan mana yang harus dipercaya, intuisi atau kenyataan.

Persoalannya bukan sekadar memindahkan pusat semesta dari Bumi kepada Matahari. Yang sedang berubah adalah cara manusia memutuskan mana yang harus dipercaya: intuisi atau kenyataan.

Dan ketika sebuah teleskop akhirnya diarahkan ke langit, semesta mulai memberikan jawabannya sendiri.

Bersambung: Bab 3 | Langit Membantah Intuisi: Galileo, Kepler, dan Keberanian Manusia Menguji Asumsi

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

5 reaksi 200 clap 2 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →