Langkah Kuda
Jejak Peradaban
Part 1: Iberia

Isi: Kartago dan Roma: Iberia Menjadi Papan Catur Dua Raksasa

Bab 4 dari 4
Lihat Daftar Isi →
Esai Panjang

Kartago dan Roma: Iberia Menjadi Papan Catur Dua Raksasa

Ilustrasi perang Kartago Vs. Roma
Ilustrasi perang Kartago Vs. Roma Generated by AI
Ada orang yang cukup hebat untuk memenangkan banyak pertempuran. Tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa satu orang, sehebat apa pun, tetap terlalu kecil untuk memikul seluruh masa depan sebuah bangsa.

Dalam dunia engineering, ada satu prinsip sederhana yang tidak boleh diabaikan pada sistem yang penting: jangan menggantungkan semuanya pada satu titik.

Sebuah komponen bisa sangat kuat, sangat presisi, bahkan nyaris sempurna. Tetapi jika kegagalannya membuat seluruh sistem ikut mati, maka kekuatan itu sekaligus menjadi kelemahan. Karena itu sistem yang tangguh selalu punya kedalaman. Ada cadangan. Ada jalur lain. Ada bagian yang dapat mengambil alih ketika bagian lain berhenti bekerja.

Sejarah pernah menguji prinsip itu dengan cara yang jauh lebih keras daripada laboratorium mana pun. Itu dilakukan di Iberia.

Di tanah ini, Kartago dan Roma berhadapan. Yang satu memiliki seorang panglima yang namanya masih dibicarakan lebih dari dua ribu tahun kemudian. Yang lain memiliki sesuatu yang tidak kalah mengerikan: kemampuan untuk kehilangan pasukan, kehilangan panglima, mengalami kekalahan besar, lalu tetap bangkit dan datang lagi.

Yang satu memiliki Hannibal. Yang lain memiliki kedalaman pasukan dan strategi tempur. Sedangkan Iberia menjadi papan catur tempat keduanya mulai menentukan siapa yang kelak berdiri paling kuat di Mediterania.

Dari Kekalahan Menuju Iberia

Pada akhir Bab 2, kita meninggalkan dunia Fenisia dan jejak panjang perdagangannya di barat. Kisah sebelumnya dapat dibaca dalam Fenesia Menemukan Iberia: Bangsa Pedagang yang Mengubah Arah Sejarah. Salah satu warisan terbesarnya adalah Kartago. Tetapi Kartago tumbuh dengan watak yang berbeda dari kota-kota Fenesia yang melahirkannya. Kota ini tidak lagi sekadar berdagang, membangun pelabuhan, lalu pulang membawa barang. Kartago mulai membangun kekuasaan.

Perubahan itu semakin nyata setelah Perang Punik Pertama. Ketika perang melawan Roma berakhir pada 241 SM, Kartago kehilangan Sisilia. Beberapa tahun kemudian Sardinia dan Korsika juga lepas dari tangannya. Kekalahan itu bukan hanya soal wilayah. Kartago kehilangan sumber pendapatan, pengaruh, dan sebagian harga dirinya.

Maka pandangannya beralih ke barat, Iberia. Semenanjung itu kaya akan perak dan logam lainnya, memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, serta menyediakan sumber daya dan manusia bagi kekuatan militer. Iberia tidak lagi hanya dilihat sebagai tempat berdagang, melainkan juga tempat membangun kembali kekuatan.

Sekitar 237 SM, Hamilcar Barca tiba di selatan Iberia dan mulai memperluas kekuasaan Kartago. Bersamanya ikut seorang anak laki-laki bernama Hannibal.

Tradisi kuno menceritakan bahwa Hamilcar pernah membawa anak itu ke sebuah altar dan memintanya bersumpah untuk tidak pernah menjadi sahabat Roma. Namun kita tidak bisa memastikan setiap detail cerita itu. Sumber-sumber kuno ditulis setelah peristiwa itu. Tetapi permusuhan politik antara keluarga Barca dan Roma bukanlah cerita kosong. Anak kecil itu kelak tumbuh menjadi salah satu musuh paling berbahaya yang pernah dihadapi Republik Romawi.

Kota Baru dan Garis di Ebro

Hamilcar meninggal sekitar 229 atau 228 SM ketika menjalankan kampanye di Iberia. Kepemimpinan kemudian berpindah kepada menantunya, Hasdrubal.

Jika Hamilcar banyak memperluas kekuasaan dengan perang, Hasdrubal lebih banyak mengukuhkannya melalui diplomasi, persekutuan, dan pembangunan politik. Di bawah kekuasaannya, Qart Hadasht berkembang menjadi pusat utama Kartago di Iberia. Bangsa Romawi kemudian menyebutnya Carthago Nova. Hari ini kita mengenalnya sebagai Cartagena.

Lokasinya hampir sempurna: pelabuhan yang baik, dekat kawasan pertambangan, dan strategis untuk mengendalikan kepentingan Kartago di semenanjung. Tetapi semakin kuat Kartago di Iberia, semakin gelisah Roma melihatnya.

Sekitar 226 SM, Roma dan Hasdrubal mencapai kesepakatan yang menetapkan Sungai Ebro sebagai batas utara ekspansi bersenjata Kartago. Di atas peta, persoalannya tampak sederhana, namun sejarah ternyata tidak sepakat dengan anggapan itu.

Di selatan Ebro berdiri Saguntum. Saguntum bukan kota Kartago, tetapi letaknya berada di kawasan yang sangat sensitif terhadap perluasan kekuasaan Kartago. Pada saat yang sama, kota itu mempunyai hubungan persahabatan dengan Roma.

Status Saguntum kemudian menjadi salah satu persoalan paling rumit menjelang perang. Sampai sekarang, sejarawan masih memperdebatkan hubungan Saguntum dengan Roma dan apakah serangan itu melanggar kesepakatan Ebro. Yang jelas, Saguntum berdiri tepat di antara kepentingan dua kekuatan besar.

Kadang perang tidak dimulai di kota terbesar. Kadang cukup sebuah kota kecil yang berdiri di tempat yang salah, pada waktu yang salah.

Hannibal Membawa Perang ke Rumah Roma

Pada 221 SM, Hasdrubal terbunuh. Pasukan Kartago di Iberia kemudian memilih Hannibal sebagai panglima. Usianya sekitar dua puluh enam tahun. Dua tahun kemudian, pada 219 SM, ia mengepung Saguntum.

Kota itu bertahan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya jatuh. Roma menganggap serangan tersebut tidak dapat dibiarkan. Utusan Roma datang menuntut agar Hannibal diserahkan. Kartago menolak. Pada 218 SM pecahlah Perang Punik Kedua.

Lalu Hannibal melakukan sesuatu yang membuat namanya hampir tidak mungkin dihapus dari sejarah. Ia tidak menunggu Roma menyerang Iberia. Ia membawa perang ke rumah Roma.

Dari Iberia, pasukannya bergerak ke utara, melintasi Pirenia, melewati Galia, menyeberangi Rhône, lalu mendaki Alpen menuju Italia. Ia membawa tentara, kavaleri, dan gajah perang melalui perjalanan berat. Banyak yang mati sebelum mencapai Italia. Tetapi Hannibal berhasil tiba.

Setelah itu, Roma mengalami serangkaian kekalahan. Puncaknya terjadi di Cannae pada 216 SM. Puluhan ribu tentara Roma tewas dalam salah satu kekalahan militer paling terkenal Republik.

Banyak negara mungkin akan meminta damai setelah kehilangan sebesar itu. Roma tidak.

Kejeniusan Tidak Lagi Cukup untuk Bertahan

Kita biasanya menyukai sejarah lewat orang-orang besar: Alexander, Caesar, Napoleon, dan Hannibal. Ada sesuatu yang memikat dari gagasan bahwa satu manusia dapat mengubah arah dunia. Kadang memang demikian. Tetapi manusia tetap manusia. Kejeniusan pun punya batas.

Dalam perang melawan Roma, keunggulan paling luar biasa Kartago semakin terkonsentrasi pada Hannibal. Dia brilian. Tetapi ia tidak bisa berada di dua tempat sekaligus.

Ketika Hannibal bertempur di Italia, Iberia tetap harus dipertahankan. Bala bantuan harus datang. Pelabuhan harus dijaga. Tambang harus tetap menghasilkan. Politik di Kartago sendiri harus mampu menopang perang panjang.

Kartago tentu tidak hanya mempunyai Hannibal. Ada Hasdrubal Barca, Mago, Hasdrubal Gisco, dan panglima lain. Namun tidak ada yang berdampak sebesar dirinya. Di situlah kekuatan perlahan dapat berubah menjadi ketergantungan.

Selama Hannibal menang, Kartago terlihat menakutkan. Tetapi semakin banyak harapan diletakkan pada satu orang, semakin besar pula akibatnya ketika sistem di belakangnya tidak mampu mengimbangi.

Roma yang Menolak Mati

Roma bekerja dengan cara berbeda. Roma waktu itu tidak selalu mempunyai panglima terbaik. Mereka juga tidak selalu memenangkan pertempuran. Tetapi mereka mempunyai kedalaman pasukan tempur.

Ketika satu pasukan dihancurkan, pasukan lain dibentuk. Ketika seorang panglima gagal, orang lain dikirim. Ketika mengalami kekalahan, Roma tidak serta-merta menganggap perang selesai. Mereka kembali.

Di Iberia, dua komandan Roma dari keluarga Scipio tewas pada 211 SM setelah bertahun-tahun melawan Kartago. Bagi banyak kerajaan, kehilangan dua pemimpin utama mungkin cukup untuk mengakhiri perang.

Bagaimana dengan Roma? Mereka memilih mengirim orang baru. Namanya Publius Cornelius Scipio. Usianya sekitar 25 tahun. Kelak dunia mengenalnya sebagai Scipio Africanus.

Scipio melakukan sesuatu yang sangat cerdas. Ia tidak mencoba menjadi Hannibal. Ia juga tidak mengejar sang jenius ke seluruh Italia. Ia menyerang tempat yang menopang kekuatannya, Iberia.

Menghancurkan Fondasi Kekuatan Lawan

Pada 209 SM, Scipio menyerang Carthago Nova. Kota itu jatuh.

Bagi Kartago, kehilangan Carthago Nova bukan sekadar kehilangan kota. Mereka kehilangan pusat logistik, pelabuhan penting, persenjataan, sandera politik, dan salah satu pusat kekuasaannya di Iberia.

Roma tidak sedang menyerang Hannibal secara langsung. Roma sedang mencabut fondasi tempat kekuatannya berpijak.

Pada 206 SM, Scipio kembali menang dalam Pertempuran Ilipa, di kawasan dekat Sevilla sekarang. Kemenangan itu secara praktis mengakhiri dominasi Kartago di Iberia.

Hannibal masih berada di Italia. Ia masih berbahaya. Tetapi satu demi satu fondasi yang menopangnya menghilang.

Ada pelajaran sederhana di sana: kita tidak selalu harus menghadapi lawan tepat di tempat ia paling kuat. Kadang yang harus dicari adalah apa yang membuat kekuatan itu muncul. Putus jalurnya. Ambil fondasinya. Lalu biarkan kekuatan yang besar kehilangan tanah tempat ia berpijak.

Akhir Sebuah Keajaiban

Ketika perang berbalik mengancam Afrika, Hannibal akhirnya dipanggil pulang. Pada 202 SM, ia berhadapan dengan Scipio dalam Pertempuran Zama.

Kali ini Hannibal kalah. Perang Punik Kedua segera berakhir. Kartago masih ada, tetapi tidak lagi menjadi kekuatan seperti sebelumnya.

Roma menang.

Bukan karena Roma selalu lebih pintar. Bukan karena setiap panglimanya lebih hebat daripada Hannibal. Roma menang karena mereka sanggup kehilangan banyak pasukan tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Roma mampu untuk gagal, belajar, mengganti orang, dan melanjutkan perang. Kejeniusan Hannibal memenangkan banyak pertempuran. Ketangguhan Roma memenangkan perang.

Untuk Kita Renungkan

Mungkin karena itulah kisah ini tetap terasa dekat setelah dua ribu tahun. Kita mudah mengagumi manusia hebat. Pemimpin hebat. Pendiri hebat. Orang yang seolah mampu menggerakkan semuanya seorang diri. Tetapi jika sebuah organisasi atau negara hanya dapat hidup selama satu orang masih ada, maka yang dibangun belum benar-benar menjadi sistem.

Jika sebuah tim berhenti bekerja ketika satu nama pergi, berarti terlalu banyak beban diletakkan pada satu bahu.

Manusia hebat tetap penting. Hannibal membuktikannya. Tetapi manusia hebat menjadi jauh lebih kuat ketika berdiri di dalam sistem yang juga kuat.

Roma tidak perlu menemukan Hannibal kedua untuk menang. Mereka hanya perlu memastikan bahwa ketika satu legion jatuh, masih ada legion berikutnya. Ketika seorang panglima mati, masih ada orang lain yang mengambil tempatnya. Dan ketika keadaan terlihat seperti kekalahan, masih ada keberanian untuk mengatakan: belum selesai.

Barangkali itulah ketangguhan yang sebenarnya, bukan tidak pernah jatuh, melainkan tidak menjadikan satu kejatuhan sebagai akhir dari segalanya.

Namun kemenangan Roma membawa ironi lain. Roma datang ke Iberia untuk mengalahkan Kartago.

Kartago akhirnya pergi.

Roma tidak.

Papan catur itu kini hanya memiliki satu pemain besar yang memutuskan untuk tinggal.

Masalahnya, Roma segera menemukan sesuatu yang tidak diajarkan kemenangan atas Kartago: mengalahkan sebuah kekuatan tidak sama dengan menguasai sebuah daerah atau tanah. Iberia akan mengajarkan perbedaan itu kepada Roma melalui pemberontakan, perang, dan perlawanan yang berlangsung hampir dua abad.

Bersambung ke Bab IV | Hispania: Roma Belajar Bahwa Menang Belum Berarti Menguasai.

Baca bab sebelumnya: Bab II | Fenesia Menemukan Iberia: Bangsa Pedagang yang Mengubah Arah Sejarah.

Referensi

  1. Polybius. The Histories, khususnya Buku II dan III. Perseus Digital Library.
  2. Livy. Ab Urbe Condita, Buku XXI–XXX. Perseus Digital Library.
  3. Briscoe, John. “The Second Punic War.” Dalam The Cambridge Ancient History, Volume VIII: Rome and the Mediterranean to 133 B.C. Cambridge University Press.
  4. Hoyos, Dexter. Hannibal’s Dynasty: Power and Politics in the Western Mediterranean, 247–183 BC. Routledge.
  5. Goldsworthy, Adrian. The Fall of Carthage: The Punic Wars 265–146 BC. Cassell.
  6. Encyclopaedia Britannica. Materi mengenai Hannibal, Punic Wars, Scipio Africanus, dan sejarah awal Spanyol.
  7. Livius.org. Materi mengenai Hannibal Barca, keluarga Barca, Saguntum, dan Perang Punik Kedua. Hannibal Barca.
Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

4 reaksi 201 clap 2 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →