Langkah Kuda
Jejak Peradaban
Part 1: Iberia

Isi: Sebelum Spanyol dan Portugal Ada

Bab 2 dari 4
Lihat Daftar Isi →
Esai Panjang

Sebelum Spanyol dan Portugal Ada

Peta Skematis semenanjung Iberia
Peta Skematis semenanjung Iberia Gambar oleh Engly Heryanto Ndaomanu
Sebuah bangsa tidak lahir begitu saja. Sebelum ada negara, yang ada hanyalah bentangan tanah. Sebelum ada identitas, yang ada hanyalah perjalanan.

Ada sesuatu yang menarik ketika kita memandang sebuah peta. Peta memberi kesan bahwa dunia selalu seperti sekarang. Garis batasnya tampak tegas, nama negaranya terlihat pasti, sampai kita mudah lupa bahwa hampir semuanya adalah hasil dari perjalanan sejarah yang sangat panjang.

Kita melihat Spanyol dan Portugal, lalu menganggap kedua negara itu memang selalu ada di sana, seolah semenanjung di ujung barat Eropa itu sejak awal disiapkan untuk mereka.

Padahal sejarah tidak pernah bekerja sesederhana itu: gunung terbentuk selama ratusan ribu tahun, sungai mengalir selama ribuan tahun, jauh sebelum manusia mengenal tulisan.

Tapi negara, bahasa, dan identitas, semuanya adalah ciptaan sejarah. Semuanya lahir dari proses panjang yang dipenuhi migrasi, perdagangan, peperangan, dan pengkhianatan, bahkan dari kebetulan-kebetulan yang baru dipahami maknanya bertahun-tahun kemudian.

Dalam dunia engineer, ada satu hal yang saya pelajari: ketika sebuah struktur runtuh, pertanyaannya tidak berhenti pada "kapan keruntuhan itu terjadi?" Pertanyaan pertama justru menuju sesuatu yang lebih mendasar: Mengapa? Apakah masalahnya pada material, pada desain, atau pada fondasi yang tak pernah benar-benar dipahami sejak awal?

Sebab keruntuhan sering kali hanyalah akhir dari proses yang sudah berjalan sangat lama. Semakin dalam saya mempelajari sejarah, semakin saya yakin bahwa apa yang berlaku di dunia engineer juga berlaku pada jejak peradaban bangsa-bangsa.

Sebuah kekaisaran tidak runtuh hanya dalam satu pertempuran. Begitu pula sebuah bangsa tidak lahir hanya dari satu deklarasi kemerdekaan. Apa yang kita catat sebagai peristiwa besar sering kali adalah hasil akhir dari proses panjang yang berjalan berabad-abad lamanya.

Karena itu, saya tidak ingin memulai perjalanan kita dari "Al-Andalus", tidak pula dari penaklukan tahun 711, apalagi dari Romawi. Saya ingin membawa kita jauh ke belakang, ke masa ketika tanah itu bahkan belum dikenal dengan nama "Iberia".

Bab ini akan membawa kita mengenal akarnya: tanahnya, penghuninya, dan alasan dunia luar datang mengetuk pintunya.


Gua Altamira: Tanah yang Lebih Tua daripada yang Disangka

Pada tahun 1879, seorang bangsawan Spanyol bernama Marcelino Sanz de Sautuola mengajak putri kecilnya, Maria, menyusuri sebuah gua di Altamira, di pesisir utara Spanyol. Dalam kisah yang masyhur itu, Maria mendongak ke langit-langit gua dan menemukannya dipenuhi lukisan bison merah, digambar dengan keluwesan yang mencengangkan.

Sautuola yakin lukisan itu berasal dari masa yang sangat lampau, mungkin dari zaman purba. Namun para ahli Eropa menolaknya, bahkan sebagian menuduhnya memalsukan lukisan itu. "Tak mungkin lukisan seindah ini dibuat oleh orang primitif," kira-kira begitu isi kepala mereka. Penolakan itu tidak seluruhnya lahir dari prasangka.

Pada masa itu belum ada kerangka penanggalan yang mapan untuk menakar usia seni purba, dan lukisan Altamira terlalu terawat serta terlalu cakap untuk cocok dengan gambaran mereka tentang manusia zaman batu. Sautuola meninggal pada 1888, sebelum namanya dipulihkan.

Baru beberapa dekade kemudian, di awal abad ke-20, setelah temuan serupa di gua-gua Prancis membuktikan bahwa manusia purba memang sanggup melukis sebaik itu, dunia ilmiah mengakui bahwa lukisan Altamira dibuat puluhan ribu tahun sebelumnya, jauh lebih tua daripada Piramida di Mesir. Manusia sudah berkesenian di tanah itu ketika sebagian besar Eropa masih diselimuti es.

Peristiwa ini perlu diingat bukan hanya karena isinya, tapi karena pola yang terus berulang: sepanjang sejarah, Iberia selalu menyimpan sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam daripada yang disangka dunia.

Barangkali di situlah ironi sejarah bekerja. Bukti sudah ada di depan mata, tetapi manusia sering menolaknya karena bertentangan dengan apa yang ingin ia percayai. Iberia mengajarkan pelajaran itu berkali-kali. Yang paling tua tidak selalu paling mudah dikenali.

Geografi Semenanjung Iberia: Panggung Ciptaan Alam

Semenanjung ini pada dasarnya sebuah benteng alam: rantai pegunungan di sisi luar yang mengelilingi dataran tinggi luas di tengah, dengan sungai-sungai besar yang bermuara ke dua perairan berbeda. Ebro mengalir ke Laut Tengah, sementara Tagus dan Guadalquivir menuju Atlantik. Di utara, Pegunungan Pirenia berdiri seperti tembok raksasa yang memisahkannya dari daratan Eropa. Di selatan, hanya selat sempit selebar belasan kilometer yang memisahkannya dari Afrika.

Posisinya ganjil, seperti sebuah persimpangan. Cukup terpencil untuk menumbuhkan identitasnya sendiri, tapi cukup dekat untuk terus mengundang pendatang. Di sebelah baratnya membentang samudra yang oleh orang kuno dianggap sebagai ujung dunia. Orang Yunani menandai selat di antara dua benua itu sebagai Pilar-Pilar Herakles, batas terakhir yang boleh dilalui manusia.

Geografi bekerja dalam senyap, tak segaduh politik. Ia tidak memilih siapa yang menang. Ia hanya menyediakan panggung, dan manusialah yang menentukan bagaimana lakon itu dimainkan. Dan Iberia adalah salah satu panggung terbesar yang pernah disuguhkan alam dalam sejarah.


Bangsa Iberia dan Kelt: Penghuni Pertama

Panggung itu penuh oleh beragam masyarakat, jauh sebelum namanya pernah dituliskan. Di pesisir timur dan selatan, tinggal suku-suku petani dan pengrajin. Para penulis Yunani menyebut mereka orang Iberia, dan dari sanalah semenanjung ini mendapat namanya.

Di utara dan barat, menetap suku-suku Kelt. Mereka datang dari seberang Pirenia, membawa tradisi logam dan seni perang. Wilayah tengah menjadi tempat keduanya berbaur, yang oleh para sejarawan disebut Keltiberia.

Mereka bukan satu bangsa dalam arti modern. Tak ada raja yang memimpin. Tak ada ibu kota, tak ada bendera. Yang ada hanyalah ratusan komunitas dengan bahasa dan adat yang berbeda-beda, hidup dari ladang, ternak, dan kerajinan. Bagi mereka, tanah bukan sekadar tempat tinggal.

Sebab tanah itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga di mata dunia luar. Dan di sinilah kunci seluruh cerita selanjutnya.


Rio Tinto: Harta di Bawah Bukit

Di tepi barat daya semenanjung, di wilayah yang kini menjadi bagian dari provinsi Huelva, mengalir sebuah sungai yang airnya berwarna merah tua akibat kandungan oksida besi. Namanya Rio Tinto, yang berarti Sungai Merah.

Warna itu berasal dari kandungan logam yang tidak biasa di perbukitan sekitarnya: tembaga, perak, emas, dan besi. Kawasan ini menjadi salah satu ladang endapan logam paling kaya dan paling lama ditambang dalam sejarah manusia, dari Zaman Perunggu hingga hari ini.

Bagi kita sekarang, deretan logam itu terdengar biasa saja. Namun pada Zaman Perunggu, logam adalah tulang punggung peradaban. Dengan logam, manusia membuat perkakas, senjata, kapal, perhiasan, dan alat tukar. Dan melalui semua itu, kekuasaan.

Sebuah wilayah yang menyimpan perak dan tembaga di perutnya, dalam konteks Zaman Perunggu, setara dengan wilayah yang menyimpan minyak bumi pada abad ke-20. Pada abad ke-20, minyak mengubah geopolitik dunia. Tiga ribu tahun sebelumnya, logamlah yang memegang peran itu.

Penduduk semenanjung sudah lama memanfaatkan logam-logam itu untuk kebutuhan sehari-hari. Yang belum mereka sadari, kabar tentang kekayaan itu diam-diam sedang menyebar lewat jalur paling tua di dunia: cerita para pelaut.

Cerita itu berpindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, makin jauh, makin berbumbu, sampai akhirnya tiba di telinga sebuah bangsa di ujung lain Laut Tengah. Bangsa yang tanahnya sempit, tapi cakrawalanya sangat luas. Bagi mereka, lautan bukan pembatas, melainkan jalan raya.


Kedatangan Fenisia ke Iberia: Tamu Baru dari Laut Tengah

Bayangkan adegan ini. Sekitar tiga ribu tahun silam, di pesisir barat daya semenanjung, di tepian sebuah teluk yang kelak dikenal sebagai Teluk Cádiz, seorang nelayan sedang menarik jalanya.

Di batas cakrawala, ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidup: layar-layar besar yang bergerak mendekat. Jumlahnya lebih dari satu, menumpang kapal-kapal yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dikenal orang-orang di desanya.

Sang nelayan tidak tahu siapa yang datang, tapi kehadiran mereka kelak akan mengubah seluruh tatanan hidup generasi-generasi sesudahnya: bahasa baru, dewa-dewa baru, dan permukiman yang akan tumbuh menjadi kota.

Peradaban tidak selalu lahir dari medan perang. Kadang ia tumbuh dari percakapan di pelabuhan, dari pertukaran barang dan bahasa, dari hasrat yang tak pernah padam untuk mengenal orang asing yang datang dari seberang.

Maka kisah Iberia pun tidak dibuka dengan pertumpahan darah, tapi dengan keberanian sekelompok manusia mengarungi samudera.

Kapal-kapal di cakrawala itu bukan milik kekaisaran terbesar ataupun milik pemilik pasukan terkuat pada zamannya. Namun tanpa mereka, sejarah Iberia mungkin akan ditulis dengan cara yang sama sekali berbeda.

Beberapa hari lagi, penduduk pesisir itu akan tahu siapa tamu mereka. Orang-orang yang datang membawa kain ungu, logam, kaca, dan barang-barang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tapi yang sesungguhnya mereka bawa bukan sekadar dagangan, mereka membawa sebuah peradaban. Dan sejak hari itu, sejarah Iberia tidak pernah benar-benar sama lagi.

Mereka adalah…

Fenisia.

Untuk Kita Renungkan

Iberia adalah tanah yang berkali-kali menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua daripada yang sanggup dikenali zamannya sendiri. Lukisan Altamira menunggu puluhan ribu tahun untuk dipercaya. Logam Rio Tinto sudah memerahkan sungainya jauh sebelum ada yang benar-benar paham nilainya. Sejarah tempat ini tidak pernah berupa satu garis lurus. Ia tersusun dari lapisan demi lapisan yang saling menimpa, dan lapisan paling bawah justru paling sering luput dari mata. Barangkali begitulah cara sejarah menyimpan rahasianya: diletakkan di tempat paling terang, sementara kita terlalu sibuk untuk menunduk.


Referensi

  • UNESCO World Heritage Centre, Cave of Altamira and Paleolithic Cave Art of Northern Spain.
  • Encyclopædia Britannica, entri "Altamira", "Iberian", dan "Celtiberia", britannica.com.
  • Wikipedia, entri "Iberians", "Rio Tinto (river)", dan "Timeline of Cádiz".
  • Andalucia.com, "History of Rio Tinto Mines" dan "History of Cadiz City", andalucia.com.
  • Amils, R. dkk., "Río Tinto: A Geochemical and Mineralogical Terrestrial Analogue of Mars", jurnal Life (2014), PMC4206857.
Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

3 reaksi 150 clap 2 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →