Langkah Kuda
Opini & Perspektif

ISPA dibalik Jerebu Karhutla

Pemeriksaan Kesehatan Pegawai
Pemeriksaan Kesehatan Pegawai Dokumentasi Pribadi

Pada pagi yang berkabut, pemandangan kota mungkin terlihat biasa saja. Gedung-gedung tampak samar, matahari kehilangan ketajamannya, dan udara seperti diselimuti lapisan tipis berwarna kelabu.

Namun ketika kabut itu bukan berasal dari uap air, melainkan asap kebakaran hutan dan lahan, persoalannya tidak lagi sekadar soal jarak pandang. Ini menjadi persoalan kesehatan. Paparan kabut asap, jerebu, dan polusi udara dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan, terutama ketika kualitas udara memburuk dalam waktu lama.

Ini bagian yang harus dijelaskan dengan hati-hati.

Asap kebakaran hutan tidak dengan sendirinya merupakan virus atau bakteri. Karena itu, menghirup jerebu tidak otomatis berarti seseorang terkena infeksi.

Namun asap kebakaran mengandung campuran berbagai polutan. Salah satu komponen yang paling dikhawatirkan adalah PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil, berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang. Ukuran ini begitu kecil sehingga partikel dapat terhirup jauh ke dalam paru-paru. WHO menyebut particulate matter sebagai ancaman kesehatan utama dari asap kebakaran. Paparan PM2.5 dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, mengi, sesak napas, serta memperburuk penyakit paru dan jantung yang telah dimiliki seseorang.

Bayangkan saluran pernapasan seperti sebuah rumah yang memiliki sistem keamanan. Mukus atau lendir, rambut-rambut halus yang disebut silia, serta sistem imun di permukaan saluran napas bekerja sama untuk menangkap dan membuang benda asing.

Ketika seseorang terus-menerus menghirup udara yang penuh partikel dan iritan, permukaan saluran napas mengalami peradangan. Sistem pertahanan lokal tersebut dapat bekerja kurang optimal.

Pada kondisi seperti itu, seseorang dapat mengalami batuk atau tenggorokan perih tanpa infeksi, tetapi paparan polusi juga dapat membuat saluran napas lebih rentan ketika kemudian berhadapan dengan virus atau bakteri.

Jadi hubungan jerebu dan ISPA bukan sesederhana: menghirup asap → langsung terkena ISPA.

Lebih tepat dipahami sebagai: jerebu → iritasi dan peradangan saluran napas → pertahanan pernapasan terganggu → keluhan pernapasan muncul dan kerentanan terhadap infeksi dapat meningkat.

Perbedaan ini penting agar masyarakat tidak langsung meminta antibiotik hanya karena batuk setelah terpapar asap.

ISPA, Selesma, Influenza, Bronkitis dan Pneumonia: Apa Bedanya?

Kelima istilah ini sering dicampuradukkan. Memahami perbedaan ISPA, selesma, influenza, bronkitis, dan pneumonia penting agar keluhan pernapasan tidak langsung dianggap sebagai penyakit yang sama.

ISPA adalah istilah payung untuk infeksi saluran pernapasan yang terjadi secara akut.

Selesma adalah infeksi virus yang terjadi di saluran pernapasan bagian atas, yaitu hidung dan tenggorokan. Sebagian besar penyebabnya adalah rhinovirus, namun bisa juga disebabkan oleh ratusan jenis virus lainnya. Gejala umumnya berupa hidung tersumbat, bersin-bersin, sakit tenggorokan, batuk, badan terasa tidak nyaman atau demam ringan.

Influenza adalah penyakit spesifik yang disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya sering muncul cukup mendadak dan gejalanya lebih berat berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, lemas, batuk, pilek dan sakit tenggorokan. Dengan demikian, influenza dapat disebut salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut, tetapi tidak semua ISPA adalah influenza.

Bronkitis berarti peradangan pada bronkus, yaitu saluran yang membawa udara menuju paru-paru. Pada bronkitis akut, batuk menjadi keluhan utama dan dapat disertai dahak serta rasa tidak nyaman pada dada. Penyebabnya sering berupa infeksi virus, meskipun iritan termasuk asap juga dapat memicu peradangan saluran napas.

Sedangkan pneumonia lebih serius karena infeksi telah mengenai jaringan paru. Pasien dapat mengalami demam, batuk, napas cepat, nyeri dada atau sesak. Pneumonia dapat disebabkan virus maupun bakteri dan pada kelompok tertentu dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.

Influenza dapat disebut salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut, tetapi tidak semua ISPA adalah influenza.

Siapa yang Harus Lebih Waspada Saat Jerebu?

Anak-anak perlu mendapat perhatian karena sistem pernapasan mereka masih berkembang dan mereka menghirup udara lebih banyak relatif terhadap ukuran tubuhnya.

Lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru kronis, penyakit jantung, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu juga lebih rentan terhadap dampak asap. WHO memasukkan kelompok-kelompok tersebut sebagai populasi yang membutuhkan perhatian lebih besar ketika terjadi paparan wildfire smoke.

Ketika kualitas udara buruk, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Bila paparan tidak dapat dihindari, penggunaan respirator yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95 yang digunakan dengan benar, memberikan perlindungan terhadap partikel jauh lebih baik dibanding masker kain biasa.

Jangan Tunggu Sampai Napas Menjadi Berat

Batuk ringan dan pilek memang sering sembuh dengan istirahat, cairan yang cukup dan penanganan gejala.

Tetapi masyarakat perlu mengenali batas antara keluhan ringan dan tanda bahaya.

Sesak napas, napas sangat cepat, nyeri dada, bibir tampak kebiruan, penurunan kesadaran, demam yang menetap atau memburuk, dehidrasi, maupun kondisi yang sempat membaik kemudian kembali memburuk merupakan alasan untuk mencari pertolongan medis.

Terutama pada anak kecil, lansia dan pasien dengan penyakit penyerta, jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat.

Masyarakat perlu mengenali batas antara keluhan ringan dan tanda bahaya.

Udara yang Tidak Lagi Sekadar Udara

Kabut asap mengingatkan kita pada sesuatu yang sering dilupakan: manusia dapat memilih makanan dan memilih air yang diminum, tetapi hampir tidak pernah bisa memilih untuk berhenti bernapas.

Setiap hari paru-paru menerima ribuan liter udara dari lingkungan sekitar. Karena itu, kebakaran hutan bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika asapnya bergerak melintasi kota, pulau dan bahkan batas negara, ia berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

Dan memahami istilah dengan benar merupakan bagian dari perlindungan itu.

ISPA bukan berarti semua batuk. “Akut” bukan berarti pasti parah. Influenza bukan sinonim ISPA. Pneumonia tidak sama dengan pilek. Dan jerebu bukan virus, tetapi dapat menciptakan lingkungan biologis yang membuat saluran pernapasan kita jauh lebih rentan.

Dalam kesehatan pernapasan, bahaya tidak selalu datang sebagai penyakit yang tiba-tiba; kadang dimulai dari udara buruk yang terlalu lama kita anggap biasa.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

4 reaksi 200 clap 2 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →