Langkah Kuda
Esai Panjang

Ketika Status Menjadi Aib, Luka Menjadi Rahasia

Status, Aib dan Rahasia
Status, Aib dan Rahasia Generated by Chatgpt

Sebuah artikel untuk mengenang Mendiang Mama, tidurlah nyenyak dalam pelukan Tuhan

Sampai hari ini ada sesuatu yang ganjil dari cara sebagian masyarakat memandang perempuan yang kehilangan pasangan. Ketika seorang perempuan kehilangan suami karena kematian, orang akan datang membawa belasungkawa dan simpati. Namun ketika perempuan lain mengakhiri pernikahannya lewat perceraian? Sebagian orang datang hanya untuk menilai, berprasangka mempertanyakan moralitasnya sebagai ibu dan perempuan. Padahal keduanya sama-sama menghadapi kehilangan, perubahan hidup, dan masa depan yang tidak pasti.

Mengapa kita menghormati perempuan yang satu, tetapi merendahkan yang lain, hanya karena perbedaan dari cara mereka kehilangan pasangan? Kita sibuk menilai status perkawinan seorang perempuan, tetapi lupa bertanya apakah ia dapat hidup dengan aman? Apakah ia sudah merasa dicintai? Ada suatu hari, di mana aku mendengar seorang perempuan berkata lantang,

“Janda yang suaminya meninggal lebih terhormat daripada janda yang bercerai.”

Mungkin untuk sebagian orang, kalimat itu terdengar biasa. Bagiku, kekejaman begitu terasa. Perempuan berhak atas penghormatan selama ia kehilangan suami karena takdir. Tetapi kehilangan hak itu, ketika ia memutuskan sendiri untuk mengakhiri pernikahan. Padahal perceraian tidak selalu lahir dari keinginan untuk meninggalkan. Sering kali ia berasal dari perjuangan panjang berliku agar dapat terus bertahan dalam sebuah perkawinan. Dari luka yang tidak terlihat, atau dari kesadaran bahwa pernikahan sudah tak lagi aman.

Simpati untuk Takdir, Penghakiman untuk Sebuah Pilihan

Psikologi sosial memberikan satu cara untuk membaca sikap yang berselisih ini. Weiner.,et al (1988) menemukan bahwa reaksi orang akan berbeda terhadap situasi yang mereka anggap dalam kendali seseorang dan pada situasi yang tidak. Jika penyebab suatu kemalangan terlihat di luar kendali korban, orang cenderung iba dan ingin menolong. Namun sebaliknya, Jika situasi tampak berada dalam kendalinya, orang cenderung marah dan enggan membantu. Penelitian itu tidak membahas janda secara khusus, tetapi kerangkanya membantu kita membaca apa yang sedang erjadi di sekitar kita.

Kematian masuk ke kategori pertama. Perceraian masuk ke kategori kedua, karena orang membayangkan adanya keputusan, dan keputusan berarti ada yang bisa disalahkan. Padahal keputusan bercerai sering datang dari keadaan yang nyaris tidak menyisakan pilihan lain. Dalam pernikahan yang abusive, kata “memilih” terdengar terlalu mewah.

Ketika Stigma Masuk ke Dalam Rumah

Aku memahami persoalan ini tidak lagi sekadar sebagai pengamat. Ibuku pernah menyandang status janda. Ia sempat hidup di bawah tekanan sosial yang memandang status itu memalukan. Pada akhirnya ia memilih segera menikah lagi. Meski laki-laki yang kemudian hadir itu tidak menyayangi anak-anaknya.

Aku tidak menyederhanakan keputusan ibuku sebagai satu alasan. Setiap perempuan punya kekuatan, pertimbangan, ketakutan, dan keterbatasannya sendiri. Namun saat menoleh kembali pada kejadian itu, betapa kejam stigma yang membuat perempuan terburu-buru segera mengubah statusnya demi penerimaan. Ketakutan pada penilaian orang lain ikut membentuk keputusan yang berdampak pada anak-anak yang hidup bersamanya.

Andai saja orang di sekelilingnya berhenti menanyakan kapan ia menikah lagi. Tidak menjadikan pernikahan satu-satunya sebagai jalan memulihkan kehormatan. Barangkali seorang perempuan bisa memilih dengan lebih tenang. Aku memang tidak bisa memastikan apakah hidup kami akan berubah sepenuhnya jika masyarakat memberi ibuku ruang itu. Namun aku percaya bahwa stigma bukan sekadar komentar yang melukai perasaan. Stigma adalah suatu tekanan yang ikut menentukan kesejahteraan keluarga. Ia mendorong perempuan mengupayakan pernikahan lagi padahal belum sepenuhnya siap.

Status adalah Ukuran Martabat

Erving Goffman (1963) menjelaskan, masyarakat memberi makna negatif pada atribut tertentu sampai atribut itu menutupi identitas seseorang secara keseluruhan. Kita tidak lagi mengenal orang itu lewat pengalaman dan karakternya, melainkan lewat satu label. Status perkawinan sebenarnya hanya menggambarkan keadaan sebuah hubungan. Sayangnya juga bisa berubah menjadi label yang membawa prasangka.

Orang kemudian mempertanyakan moralitas perempuan itu. Mulai dari meragukan kemampuannya mengurus keluarga, atau memberinya nasihat yang tidak ia butuhkan. Seakan-akan perempuan yang bercerai kehilangan hak menentukan jalan hidupnya.

Teori seksisme ambivalen membantu kita melihat sisi lain dari penghakiman ini. Glick dan Fiske (1996) membedakan seksisme hostil, yaitu menghukum perempuan yang menantang peran tradisional. Sementara seksisme benevolen, yang memuja perempuan selama mereka terus menjalani peran itu. Misalnya sebagai istri dan ibu yang setia. Keduanya bekerja beriringan, pujian menjadi hadiah bagi perempuan yang patuh, dan penghakiman menjadi hukuman bagi mereka yang dianggap keluar jalur.

Dengan kerangka ini, kita bisa memahami mengapa janda yang suaminya meninggal terlihat memenuhi peran itu. Namun pada janda yang bercerai, orang menganggap mereka telah menanggalkannya. Ketika label itu terus menjadia ide dalam percakapan sehari-hari, perempuan dapat mulai memandang dirinya dengan penilaian yang sama. Corrigan dan Watson (2002) menyebut proses ini self-stigm. Suatu keadaan di mana orang menyadari stereotip yang beredar, menyetujuinya. Menerapkannya pada diri sendiri, dan harga dirinya menurun.

Penelitian mereka berangkat dari stigma terhadap penyakit mental, tetapi dari setiap tahapannya membantu kita memahami internalisasi stigma lain. Perempuan yang bercerai bisa merasa malu, menganggap dirinya kurang berharga, atau takut kembali ke lingkungan yang dulu menerimanya.

Sampai di titik ini, aku ingin bertanya lebih jauh. Apakah seorang perempuan kehilangan martabatnya ketika bercerai? Dan pada sebuah pernikahan yang menyakiti individu, mengapa masyarakat lebih sibuk mempertahankan statusnya daripada memikirkan kesejahteraannya?

Kita perlu belajar untuk membedakan tentang “menghargai pernikahan” dari memuliakan status perkawinan secara berlebihan. Menghargai pernikahan berarti menghargai komitmen, tanggung jawab, dan usaha kedua pihak membangun hubungan yang sehat.

“Memuliakan status” membuat kita menganggap bertahan selalu lebih terhormat, apa pun yang terjadi di dalamnya. Padahal sebuah pernikahan bisa tetap utuh secara administratif, tetapi sudah kehilangan rasa aman, rasa hormat, dan kasih sayang. Kita tidak bisa menilai kualitas hubungan hanya dari apakah pasangannya masih bersama.

Mengapa Perempuan Ikut Menghakimi Perempuan?

Stigma terhadap janda menjadi kian rumit karena sebagian perempuan ikut merendahkan mereka yang bercerai. Sebagian percaya bahwa perempuan harus bertahan dalam pernikahan yang babak belur. Bertahan terus dianggap lebih mulia meski kehilangan akses paling vital dalam aspek kehidupannya. Aspek kebutuhan finasial, sampai pada aspek fisik dan mental yang sehat.

Sebagian lain terus mengulang nilai yang mereka pelajari sejak kecil tanpa pernah mempertanyakannya. Hipotesis dunia yang adil menawarkan satu penjelasan. Lerner (1980) menggambarkan kecenderungan manusia mempercayai bahwa dunia ini adil dan setiap orang menerima apa yang pantas ia terima. Keyakinan itu memang cukup menenangkan, tetapi harganya sangat mahal. Ketika sesuatu yang buruk menimpa seseorang, kita tergoda mencari kesalahan pada dirinya agar kita sendiri merasa aman. Jika perempuan yang bercerai “pasti punya kekurangan”, sehingga pernikahan kita sendiri terlihat lebih aman dan terlindungi.

Jost dan Banaji (1994) menambahkan lapisan lain lewat teori justifikasi sistem. Orang cenderung membela tatanan sosial yang ada, bahkan jika tatanan itu merugikan kelompoknya sendiri. Itu karena tatanan yang stabil memberi rasa pasti. Perempuan yang menjaga standar “istri yang bertahan” belum tentu bermaksud menjatuhkan sesama. Bisa saja ia sedang membela aturan yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.

Penghakiman jarang berawal dari kejahatan pribadi. Ia berasal dari norma yang kita internalisasikan bersama. Kita perlu mengkritisi cara pandang yang membuat perempuan merasa harus merendahkan perempuan lain demi terlihat lebih baik dan berbeda. Padahal kita tidak perlu mengorbankan martabat perempuan lain untuk memvalidasi hidup yang sedang kita jalani. Merusak rasa percaya diri perempuan lain agar hidup kita terlihat lebih baik.

Bagiku, sebagai bentuk solidaritas antarperempuan bisa dimulai dari kesediaan untuk tidak buru-buru menilai kehidupan yang tidak sepenuhnya kita ketahui. Kita tidak pernah tahu berapa lama seseorang mencoba memperbaiki hubungannya. Seberapa berat dan rumit pertimbangan sampai membawanya pada keputusan untuk berpisah. Kita mungkin tidak selalu memahami pilihannya. Tapi kita sebenarnya tetap bisa menghormati kemanusiaannya.

Rasa Takut pada Status Mengalahkan Kebutuhan akan Rasa Aman

Pada sebagian perempuan, ketakutan menjadi janda membawa konsekuensi nyata. Mulai dari kehilangan dukungan keluarga, kesulitan ekonomi, beban mengasuh anak seorang diri, dan pengucilan. Jika ia hidup dalam hubungan yang abusive, situasinya tentu menjadi lebih kompleks lagi. Ia berhadapan dengan kontrol ekonomi, ancaman, kekerasan, atau kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anaknya. Ia masih berharap pasangannya berubah, karena tidak punya tempat tinggal yang aman, atau takut kehilangan dukungan yang selama ini ia andalkan.

Tekanan sosial terhadap status janda ikut menambah beban itu. Maka kita perlu berhenti bertanya dengan nada menghakimi,

“Mengapa dia tidak pergi saja?”

Pertanyaan yang lebih manusiawi adalah,

“Apa yang membuatnya sulit pergi? dan bagaimana cara membantunya memperoleh alternatif pilihan yang tepat dan lebih kondusif?”

Tentu tidak semua perempuan yang bertahan mengalami kekerasan, dan pengalaman setiap perempuan berbeda. Namun masyarakat yang peduli pada keluarga perlu memastikan setiap orang memiliki akses pada dukungan dan perlindungan ketika suatu hubungan berubah wujud menjadi kekerasan.

Mengubah Cara Kita Memandang Janda

Memulai perubahan bisa dari cara kita berbicara. Berhenti menggunakan status perkawinan sebagai ukuran keberhasilan hidup seseorang. Berhenti menjadikan perceraian bahan ghibahan, dan menahan diri menilai keputusan yang tidak sepenuhnya kita pahami. Pihak keluarga mendampingi perempuan yang bercerai tanpa memaksanya segera menikah lagi. Kelompok pertemanan bisa ikut mendengarkan tanpa buru-buru menasihati. Lembaga terkait menyediakan bantuan hukum, dukungan psikologis, dan pemberdayaan ekonomi.

Pemulihan tidak harus mengikuti jadwal yang masyarakat tetapkan. Perempuan yang bercerai tidak harus segera menemukan pasangan baru agar hidupnya terlihat berharga. Mereka berhak menjalani masa sendiri, membesarkan anak, membangun karier. Sampai nanti tiba waktunya membuka hati untuk hubungan baru ketika telah sepenuhnya siap.

Mengembalikan Martabat Manusia, Martabat Seorang Perempuan

Stigma tidak selalu berwujud penghinaan keras. Sering kali hanya lewat satu kalimat yang orang anggap wajar. Satu pertanyaan yang terus berulang, atau satu keyakinan yang terus kita wariskan dari generasi ke generasi. Sebuah label hanya butuh sepersekian detik diucapkan, tetapi dampaknya bisa menghantui seseorang bertahun-tahun.

Oleh karena itu alangkah baiknya mengubah pertanyaan. Bukan lagi mengapa seorang perempuan gagal mempertahankan pernikahannya, melainkan apakah ia punya kesempatan untuk hidup sejahtera dan bermartabat. Tidak perlu lagi memperebutkan siapa yang lebih terhormat antara perempuan yang suaminya meninggal dan perempuan yang bercerai. Karena keduanya selalu punya kisah, kehilangan, dan perjuangan masing-masing.

Kita juga tidak harus mengetahui seluruh cerita seorang perempuan untuk tetap menghormati mereka layaknya seorang manusia. Kehormatan tidak lahir hanya dari status perkawinan, ia ada dan melekat pada kemanusiaanya. Seorang perempuan tidak berkewajiban mempertahankan pernikahan yang menyakiti agar masyarakat tetap meperlakukannya dengan baik. Dan tidak perlu lagi ada seorang anak turut menanggung konsekuensi dari stigma yang tidak pernah ia ciptakan.

Arum Weni Yekti Lestari Magister Student · Unika Soegijapranata Arum Weni Yekti Lestari adalah mahasiswi program magister di Unika Soegijapranata. Lihat profil penulis →
Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

2 reaksi 67 clap 2 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →