Langkah Kuda
A Brief History of Time: Perjalanan bersama buku #1 NYT Bestseller
Part 1: Universe

Our Picture of the Universe: Bagaimana Kita Melihat Semesta?: Manusia Mulai Bertanya: Dari Keheranan Menuju Pengetahuan

Bab 1 dari 3
Lihat Daftar Isi →
Opini & Perspektif

Manusia Mulai Bertanya: Dari Keheranan Menuju Pengetahuan

Gambar utama serial A Brief History of Time.
Gambar utama serial A Brief History of Time. Dokumentasi penulis.
Kita mulai memahami semesta bukan ketika jawaban ditemukan, melainkan saat manusia berani meragukan apakah gambaran yang selama ini dianggap sebagai kebenaran adalah benar-benar sebuah kebenaran?

Ada masa ketika langit bukan sekedar bentangan atap raksasa berwarna biru di atas sana. 

Saya ingat ketika masih kecil, saya berhenti hanya untuk melihat Bulan yang seolah mengikuti perjalanan, bertanya ke mana Matahari pergi setelah senja, atau melempar sesuatu ke udara berkali-kali karena benda itu selalu kembali. Gravitasi, optika, mekanika, apalagi kosmologi, belum dikenal masa itu. Namun ada sesuatu yang datang lebih dahulu daripada persamaan: keheranan.

Mengapa benda jatuh? Mengapa malam gelap? Mengapa bintang bergerak? Apakah alam semesta memiliki ujung? Dan jika memiliki awal, apa yang ada sebelumnya?

Pertanyaan semacam itulah yang mengawali A Brief History of Time. 

Stephen Hawking tidak langsung membawa pembacanya kepada relativitas atau lubang hitam. Ia memulai dari sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana sebenarnya gambaran kita tentang alam semesta?

Anehnya, untuk membicarakan persoalan sebesar itu, Hawking justru menulis tentang seekor kura-kura.

Dalam anekdot pembukanya, Hawking menulis tentang seorang ilmuwan yang menjelaskan bagaimana Bumi mengelilingi Matahari dan bagaimana Matahari bergerak mengitari pusat galaksi. Seorang nenek kemudian menyatakan bahwa penjelasan itu keliru. Dunia, katanya, sebenarnya merupakan bidang datar yang berada di atas punggung seekor kura-kura raksasa.

Sang ilmuwan bertanya: lalu apa yang menopang kura-kura itu?

Nenek itu rupanya sudah siap dengan jawaban: "Kura-kura lain".

"Lalu apa yang menopang kura-kura kedua?"

Ya, kura-kura lagi.

Jika pertanyaan itu diteruskan, tampaknya kosmologi akan membutuhkan anggaran pengadaan kura-kura yang cukup besar.

Turtles all the way down, begitu kata sang nenek.     

Kita boleh tertawa. 

Tetapi tepat setelah itu, persoalannya menjadi serius.

Mengapa kita yakin bahwa gambaran kita tentang alam semesta lebih benar daripada milik nenek tadi? Inilah yang membuat judul Our Picture of the Universe menjadi menarik. Hawking tidak sedang membicarakan alam semesta semata, tetapi membicarakan gambaran manusia tentang alam semesta. Keduanya bukan hal yang sama.

Alam semesta adalah realitas fisik. Sementara teori adalah cara manusia merepresentasikan realitas itu melalui konsep, model matematika, dan aturan yang menghubungkannya dengan hasil pengamatan. 

Hawking kemudian merumuskan dua tuntutan penting: teori yang baik harus mampu menjelaskan banyak pengamatan melalui sedikit unsur arbitrer sekaligus menghasilkan prediksi yang dapat diuji.

Dengan begini, fisika menjadi lebih menarik daripada sekadar kumpulan rumus. Persamaan bukan realitas, persamaan adalah bahasa yang kita gunakan untuk menangkap pola di dalam realitas.  

Newton, misalnya, berhasil menunjukkan bahwa gerak benda di Bumi dan gerak benda langit tidak memerlukan dua jenis fisika yang berbeda. Hukum gravitasi yang sama dapat digunakan untuk memahami benda yang jatuh dan orbit Bulan. Kemajuan besar itu mengubah cara manusia memandang langit: yang di atas sana ternyata tunduk pada hukum alam yang sama dengan yang terjadi di sini.

Namun kekuatan sains justru terletak pada kenyataan bahwa keberhasilan sebuah teori tidak membuatnya kebal terhadap pertanyaan.

Hawking menegaskan bahwa teori fisika selalu bersifat provisional. Sebanyak apa pun eksperimen yang sesuai dengannya, kita tidak dapat membuktikan bahwa tidak akan pernah muncul pengamatan yang memaksa teori itu diperbaiki. Newton bekerja luar biasa baik dalam wilayah yang luas, tetapi pengamatan tertentu kemudian membutuhkan gambaran yang lebih lengkap melalui relativitas Einstein.

Maka perjalanan pengetahuan bukanlah garis sederhana dari “salah” menuju “benar”. Hal ini lebih menyerupai gerak spiral: keheranan melahirkan pertanyaan, pertanyaan melahirkan model, model menghasilkan prediksi, prediksi berhadapan dengan kenyataan, dan kenyataan memaksa manusia untuk berpikir kembali.

Merenungkan hal ini, pembacaan Hawking terasa dekat dengan gagasan yang saya coba bangun di buku Dalam Pikiran Semesta: Fisika dan Keheranan yang Mengubahkan, fisika sebenarnya hadir dalam pengalaman jauh sebelum ia hadir sebagai persamaan.

Seorang anak mengalami gerak sebelum mengenal Newton. Ia melihat cahaya sebelum mengetahui optika. Ia mendengar gema sebelum memahami gelombang. Bahkan gravitasi mungkin pertama kali dikenalnya bukan melalui persamaan, melainkan melalui lutut yang lecet setelah terjatuh.

Dunia datang lebih dahulu.
Kemudian keheranan.
Lalu pertanyaan.
Barulah pengetahuan.

Tetapi keheranan saja tidak cukup. Keheranan membutuhkan pasangan yang sedikit lebih tidak menyenangkan: keraguan. Keheranan membuat kita berani bertanya. Keraguan mencegah kita terlalu cepat jatuh cinta kepada jawaban sendiri.

Barangkali itulah salah satu watak terindah dari fisika. Pengetahuan tidak harus membunuh rasa takjub. Mengetahui bahwa bintang adalah objek fisik yang sangat jauh tidak membuat langit malam menjadi kurang menakjubkan. Justru pengetahuan mengubah keheranan yang samar menjadi keheranan yang lebih terdidik.

Namun ada masalah...

Manusia tidak hanya pandai membangun gambaran tentang realitas. Kita juga sangat pandai merasa nyaman di dalam gambaran yang telah kita bangun.

Berabad-abad sebelum Hawking, Aristoteles melihat langit dan menyusun kosmos yang menempatkan Bumi pada posisi istimewa. Ptolemy kemudian mengembangkan gambaran itu menjadi sistem yang bahkan mampu memprediksi posisi benda-benda langit dengan cukup baik untuk zamannya.  

Justru itulah yang membuat kisah berikutnya menjadi penting.

Jika orang-orang paling cerdas pada zamannya pernah keliru membaca semesta, barangkali pertanyaan terpenting bukanlah mengapa mereka salah, melainkan: keyakinan apa yang hari ini kita sebut kebenaran, tetapi kelak akan dikenang sebagai cara lama manusia memandang semesta?

Kita memang mudah menoleh ke masa lalu dan tersenyum melihat gambaran kosmos yang kini terasa begitu asing. Jauh lebih sulit untuk menerima kemungkinan bahwa suatu hari, generasi setelah kita mungkin memandang sebagian keyakinan kita dengan senyum yang sama.

Barangkali di situlah kerendahan hati paling penting dalam sains bermula yaitu dengan menyadari bahwa pengetahuan terbaik sekalipun harus selalu bersedia berhadapan kembali dengan kenyataan.

Sebab semesta tidak pernah berjanji untuk menjadi seperti yang kita bayangkan.

Dan untuk memahami bagaimana sebuah gambaran dapat terasa begitu masuk akal, bertahan selama berabad-abad, lalu perlahan retak di hadapan pengamatan, kita harus kembali ke suatu masa ketika manusia menengadah ke langit dan melihat dirinya berada tepat di pusat segala sesuatu.

Di sana, Aristoteles dan Ptolemy sedang menunggu kita.


Bersambung:
Bab 2 | Bumi Menjadi Pusat Semesta: Bahaya Sebuah Asumsi.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

5 reaksi 251 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →