Langkah Kuda
Investigasi

Benarkah Antibiotik Kehilangan Taringnya?

Bakteri Vs. Antibiotik
Bakteri Vs. Antibiotik Ilustrasi oleh AI

Antibiotik tidak kehilangan daya karena tubuh manusia menjadi kebal. Yang berubah adalah bakterinya, dan setiap penggunaan antibiotik ikut memberi tekanan seleksi pada evolusi mereka.

Pada abad ke-20, antibiotik mengubah cara manusia menghadapi infeksi bakteri. Penyakit yang sebelumnya dapat berakhir fatal menjadi jauh lebih mungkin diobati. Operasi menjadi lebih aman, kemoterapi dapat dilakukan dengan risiko infeksi yang lebih terkendali, dan banyak tindakan medis modern berdiri di atas satu keyakinan sederhana.

Jika infeksi bakteri terjadi, kita masih memiliki obat untuk melawannya.

Kurang dari satu abad kemudian, keyakinan itu mulai retak.

Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa pada 2023, sekitar satu dari enam infeksi bakteri terkonfirmasi laboratorium yang dipantau secara global menunjukkan resistansi terhadap antibiotik.[1]

Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar satu obat yang tidak lagi bekerja. Analisis Global Burden of Disease memperkirakan bahwa pada 2021 sekitar 4,71 juta kematian berhubungan dengan bacterial antimicrobial resistance (AMR). Dari jumlah tersebut, sekitar 1,14 juta kematian diperkirakan secara langsung dapat diatribusikan kepada AMR.[2]

Dua angka itu perlu dibedakan. “Berhubungan dengan” tidak berarti seluruh kematian tersebut disebabkan langsung oleh resistansi. Tetapi bahkan dengan pembedaan itu, skalanya tetap menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi persoalan kesehatan yang sangat serius.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Yang Kebal Bukan Tubuh Manusia

Ada satu salah kaprah yang perlu diluruskan sejak awal. Ketika orang mengatakan tubuh seseorang sudah “kebal” terhadap antibiotik, yang sebenarnya berubah bukan tubuh manusia.

Yang menjadi resistan terhadap antibiotik adalah bakterinya.

Antibiotik bekerja dengan membunuh bakteri atau menghambat proses penting yang dibutuhkan bakteri untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Ada antibiotik yang mengganggu pembentukan dinding sel, ada yang menghambat produksi protein, dan ada pula yang menyerang proses biologis lain yang penting bagi kehidupan bakteri.

Melalui mutasi atau dengan memperoleh materi genetik dari bakteri lain, sebagian bakteri dapat memiliki sifat yang membuatnya lebih tahan terhadap antibiotik tertentu. Ketika antibiotik diberikan, bakteri yang sensitif lebih mudah mati, sementara bakteri yang memiliki mekanisme resistansi mempunyai peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang biak.[3]

Antibiotik tidak “mengajari” bakteri untuk berpikir. Antibiotik memberi tekanan seleksi. Evolusi melakukan sisanya.

Bagaimana Bakteri Bertahan?

Bakteri mempunyai berbagai cara untuk bertahan. Sebagian menghasilkan enzim yang dapat merusak atau menonaktifkan antibiotik. Sebagian lain mengubah struktur yang menjadi sasaran obat. Ada pula yang mengurangi masuknya antibiotik ke dalam sel atau memompanya kembali keluar.[3]

Bakteri bahkan tidak selalu harus menunggu munculnya mutasi baru pada keturunannya. Mereka dapat memperoleh gen resistansi dari bakteri lain melalui horizontal gene transfer, yaitu perpindahan materi genetik antarsel bakteri.

Salah satu perantaranya adalah plasmid, potongan DNA yang dapat membawa gen resistansi dari satu bakteri ke bakteri lainnya.[4]

Jadi, resistansi antibiotik bukan cerita tentang bakteri yang tiba-tiba menjadi lebih pintar daripada manusia. Resistansi merupakan bagian dari evolusi mikroba, proses yang sudah berlangsung jauh sebelum manusia menemukan antibiotik.

Persoalannya, cara manusia menggunakan antibiotik dapat memperbesar tekanan seleksi dan memberi keuntungan kepada bakteri yang mampu bertahan.

Bukan Sekadar Persoalan Satu Pasien

Antibiotik yang digunakan ketika tidak diperlukan, pemilihan obat yang tidak tepat, dosis atau durasi yang tidak sesuai, penggunaan pada manusia maupun hewan, lemahnya pengendalian infeksi, sanitasi yang buruk, serta keterbatasan diagnostik dapat ikut mendorong persoalan AMR.[1]

Karena itu, resistansi antibiotik terlalu luas untuk dijelaskan hanya dengan mengatakan, “Pasien terlalu sering minum antibiotik.”

Masalahnya tidak berhenti pada perilaku satu orang. Bakteri dan gen resistansi dapat berpindah melalui manusia, hewan, pangan, air, dan lingkungan. Apa yang terjadi di rumah sakit tidak sepenuhnya terpisah dari apa yang terjadi di peternakan, rantai pangan, atau lingkungan tempat kita hidup.

Di sinilah konsep One Health menjadi penting. Kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berhubungan. Karena mikroorganisme resistan dapat bergerak di antara ketiganya, persoalan AMR tidak dapat ditangani hanya dari satu sisi.[5]

Ketika Fondasi Kedokteran Modern Mulai Terganggu

Dampaknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah satu resep antibiotik masih mempan.

Jika antibiotik pilihan pertama gagal, dokter mungkin harus menggunakan obat lain yang lebih mahal, lebih sulit diberikan, memiliki profil efek samping berbeda, atau tidak selalu tersedia. Pada sebagian infeksi, pilihan terapinya bahkan dapat menjadi sangat terbatas.

Masalah ini menjadi semakin serius karena banyak bagian kedokteran modern bergantung pada antibiotik yang masih efektif. Pembedahan besar, transplantasi organ, perawatan intensif, kemoterapi, hingga perawatan bayi prematur semuanya menghadapkan pasien pada risiko infeksi.

Jika kemampuan kita mengobati infeksi semakin berkurang, resistansi antibiotik tidak lagi sekadar masalah penyakit infeksi. Resistansi tersebut akhirnya mulai menggerogoti salah satu fondasi kedokteran modern.

Antibiotik Bukan Musuh

Namun satu hal juga harus ditegaskan: antibiotik bukan musuh.

Pesan yang benar bukanlah agar masyarakat takut menggunakan antibiotik. Obat ini tetap menjadi salah satu perangkat terpenting dalam kedokteran dan telah mengubah cara manusia menghadapi berbagai infeksi bakteri.

Persoalannya adalah bagaimana antibiotik digunakan.

Penggunaannya harus tepat: diberikan ketika memang ada indikasi, dengan pilihan obat, dosis, cara pemberian, dan durasi yang sesuai dengan jenis infeksi serta kondisi pasien. WHO sendiri memberikan rekomendasi yang berbeda untuk berbagai infeksi karena tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik yang sama, dengan dosis dan durasi terapi yang sama.[6]

Haruskah Antibiotik Selalu Dihabiskan?

Ungkapan lama “antibiotik harus selalu dihabiskan” juga perlu dipahami secara lebih tepat.

Durasi terapi tidak sama untuk setiap penyakit. Pada sejumlah infeksi, terapi yang lebih singkat dapat memadai. Karena itu, yang penting bukan sekadar “menghabiskan” antibiotik, tetapi menggunakannya sesuai resep dan durasi yang telah ditentukan berdasarkan kondisi pasien.

Pasien sebaiknya tidak menghentikan, memperpanjang, mengurangi, atau mengubah terapi sendiri tanpa penilaian tenaga medis.

Paradoks Sebuah Kemenangan

Antibiotik memberi manusia kekuatan luar biasa untuk mengendalikan infeksi. Tetapi kekuatan itu tidak tanpa batas.

Mungkin di sinilah paradoks terbesar antibiotik: salah satu kemenangan terbesar kedokteran dapat kehilangan sebagian kekuatannya karena keberhasilannya membuat kita terbiasa menganggap obat itu akan selalu bekerja.

Antibiotik tidak kehilangan daya karena bakteri belajar berpikir. Resistansi muncul karena evolusi terus bekerja, sementara cara manusia menggunakan antibiotik ikut menentukan seberapa besar keuntungan yang kita berikan kepada bakteri yang mampu bertahan.

Kita tidak mungkin menghentikan evolusi. Tetapi kita masih dapat mengurangi tekanan yang membuat bakteri resistan semakin diuntungkan.

Karena itu, menjaga efektivitas antibiotik bukan hanya urusan dokter, rumah sakit, atau pasien yang sedang sakit. Ini adalah soal bagaimana kita menjaga salah satu alat medis paling berharga yang pernah dimiliki manusia.

Antibiotik belum kehilangan seluruh taringnya. Pertanyaannya adalah: seberapa bijak kita menggunakannya sebelum taring itu benar-benar tumpul?

Referensi

[1] World Health Organization. Antimicrobial resistance. WHO Fact Sheet. Pembaruan 16 Juli 2026.

[2] GBD 2021 Antimicrobial Resistance Collaborators. Global burden of bacterial antimicrobial resistance 1990–2021: a systematic analysis with forecasts to 2050. The Lancet. 2024;404(10459):1199–1226. doi:10.1016/S0140-6736(24)01867-1.

[3] Darby EM, Trampari E, Siasat P, et al. Molecular mechanisms of antibiotic resistance revisited. Nature Reviews Microbiology. 2023;21:280–295. doi:10.1038/s41579-022-00820-y.

[4] Castañeda-Barba S, Top EM, Stalder T. Plasmids, a molecular cornerstone of antimicrobial resistance in the One Health era. Nature Reviews Microbiology. 2024;22:18–32. doi:10.1038/s41579-023-00926-x.

[5] World Health Organization. One Health. WHO. Pendekatan ini menghubungkan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan dalam respons terhadap resistansi antimikroba.

[6] World Health Organization. The WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) Antibiotic Book. Geneva: WHO; 2022. ISBN 978-92-4-006238-2.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

3 reaksi 150 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →