Langkah Kuda
Kisah & Pengalaman

Francesco Totti: Raja ke 8 Roma

Sebuah Takhta yang Masih Menanti Sang Pewaris

Francesco Totti
Francesco Totti Generated by AI
Roma pernah memiliki 7 raja yang namanya tercatat dalam sejarah, tetapi berabad-abad kemudian, seorang anak kota itu merebut takhta kedelapan tanpa mahkota, tanpa peperangan, hanya dengan sepak bola dan kesetiaan.


Bayangkan Stadio Olimpico pada sebuah malam pertandingan. Puluhan ribu Romanisti memenuhi tribun. Bendera merah dan kuning berkibar, nyanyian membahana, sementara suara Carlo Zampa, penyiar legendaris AS Roma, menggema memperkenalkan para pemain. Ketika tiba giliran sang kapten, stadion menyambut dengan gemuruh.

Un capitano, c'è solo un capitano!

Hanya ada satu kapten!

Francesco Totti, salah satu fantasista terbaik yang pernah dilahirkan sepak bola Italia. Sergio Ramos mengaguminya, Luka Modrić mengidolakannya. Bahkan Diego Armando Maradona, pada 21 Mei 2017, memberikan pujian luar biasa:

“Francesco Totti re di Roma! È e sarà il miglior giocatore che abbia visto in vita mia!”

Francesco Totti, Raja Roma! Dia adalah dan akan selalu menjadi pemain terbaik yang pernah kusaksikan sepanjang hidupku.

Di antara berbagai julukan yang melekat kepadanya, ada satu yang istimewa: L'Ottavo Re di Roma, Raja Kedelapan Roma.

Mengapa kedelapan? Siapakah tujuh raja sebelumnya? Jawabannya membawa kita jauh meninggalkan Olimpico, menuju sejarah Roma sebelum republik berdiri.

7 Raja yang Membangun Roma

Menurut tradisi Romawi, pada 753 SM, Romulus mendirikan Roma di kawasan Bukit Palatium. Bersama saudara kembarnya, Remus, ia dikisahkan pernah disusui seekor serigala betina. Romulus kemudian menjadi raja pertama. 

Takhta beralih kepada Numa Pompilius, yang dikenang sebagai pembangun tradisi keagamaan. Sesudahnya, Tullus Hostilius memperluas kekuasaan Roma melalui peperangan, termasuk penaklukan Alba Longa.

Raja keempat, Ancus Marcius, dikaitkan dengan pembangunan pelabuhan Ostia dan perluasan perdagangan. Kemudian Tarquinius Priscus membawa pengaruh Etruria serta memulai berbagai pembangunan penting kota.

Servius Tullius, raja keenam, dikenang melalui reformasi pengorganisasian penduduk dan militer. Dinasti kerajaan akhirnya berakhir pada masa Lucius Tarquinius Superbus, penguasa yang digambarkan bertindak sewenang-wenang. Penggulingannya sekitar 509 SM menandai kelahiran Republik Romawi. 

Kisah ketujuh raja tersebut merupakan perpaduan tradisi sejarah dan legenda. Roma kemudian berkembang menjadi republik, lalu kekaisaran yang mengubah perjalanan peradaban dunia.

Selama ribuan tahun, tidak ada raja kedelapan dalam urutan kerajaan kuno itu. 

Namun, sepak bola kelak menghadirkan kisahnya sendiri.

Mahkota yang Menemukan Pewarisnya

Tahun 1942, AS Roma memenangkan Scudetto pertamanya. Amadeo Amadei, penyerang kelahiran Frascati, menjadi pahlawan kemenangan itu. Jurnalis Bruno Roghi mengangkatnya melalui julukan Raja Kedelapan Roma. 

41 tahun kemudian, mahkota simbolis itu berpindah kepada Paulo Roberto Falcão. Maestro Brasil tersebut memimpin generasi Roma yang menjuarai Serie A pada 1983. Olimpico kembali merayakan rajanya.

Lalu datang seorang anak Roma bernama Francesco Totti. Ia tumbuh mencintai Giallorossi, mengenakan seragamnya sejak remaja, lalu menjadi kapten yang membawa Roma menjuarai Serie-A pada 2001.

Totti menjelma menjadi kebanggaan kotanya. Umpan yang tak terduga, gol-gol indah, sentuhan cucchiaio yang mempermalukan penjaga gawang, semuanya menjadi bagian dari kenangan Olimpico.

Ia menolak kesempatan bergabung dengan Real Madrid. Selama 25 musim bersama tim utama, ia mencetak 307 gol dalam 786 pertandingan resmi. 

Dari Amadei kepada Falcão, kemudian Totti, gelar Raja Kedelapan terus menemukan pemiliknya. Tetapi pada Totti, mahkota itu terasa begitu dekat dengan rakyatnya. Ia lahir di Roma, hidup sebagai Romanista, dan menua bersama klub yang dicintainya.

Ketika Sang Raja Pergi

28 Mei 2017.

Roma mengalahkan Genoa 3-2. Namun, kemenangan terasa berbeda. Hari itu adalah pertandingan terakhir Francesco Totti.

Di tengah puluhan ribu pendukung, sang kapten berdiri membawa surat perpisahan. Suaranya bergetar. Air matanya jatuh. Ia mengaku takut. Untuk pertama kalinya, masa depan tidak lagi terlihat melalui jaring gawang yang selama ini begitu dikenalnya.

Totti meninggalkan lapangan. Nomor sepuluh itu tak lagi berlari di hadapan Curva Sud. Olimpico tetap berdiri. Pertandingan terus berlangsung. Roma masih memiliki para pemain hebat dan kembali meraih trofi. Tetapi kerinduan kepada sang kapten tidak ikut pergi.

Kini Roma masih menanti. Barangkali suatu hari akan datang pemain dengan gol lebih banyak, umpan lebih indah, atau prestasi lebih tinggi. Namun, yang dirindukan para Romanisti adalah sosok yang kembali membawa perasaan itu ke lapangan: kebanggaan melihat seorang pemain mencintai Roma sebagaimana mereka mencintainya.

Selama berabad-abad, Roma belajar hidup tanpa raja. Tetapi di Olimpico, kenangan tentang Raja Kedelapan belum juga menemukan penggantinya.

Dan entah berapa lama lagi Curva Sud harus menunggu sampai seseorang membuat mereka kembali bernyanyi, dengan keyakinan yang sama:

Un capitano, c'è solo un capitano!

Grazie, Capitano.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

2 reaksi 150 clap 0 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →