Langkah Kuda
Esai Panjang

Hanya Dekat Allah Saja Aku Tenang

Dimanakah Jiwa Menemukan Tempat untk Bersandar?

Mazmur 62:2
Mazmur 62:2 Dokumentasi Pribadi

Manusia sering mencari ketenangan dengan memperkuat apa yang dimilikinya. Raja Daud menemukannya ketika ia mengetahui kepada siapa seluruh hidupnya dapat dipercayakan.

Ada banyak hal yang dapat membuat manusia merasa aman, tetapi tidak semuanya mampu membuatnya tenang. Kita bekerja, mengejar karier, menabung, membangun rumah, mengejar pendidikan, memperluas jaringan, dan merencanakan masa depan. Semua itu baik. Namun satu pertanyaan tetap tinggal: jika yang kita andalkan berubah atau hilang, apakah jiwa dan kedamaian kita tetap bertahan?

Jika kita melihat Mazmur 62, penulis mazmur membawa pertanyaan itu ke tempat yang sangat pribadi: “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”

Kalimat ini terdengar sederhana. Tetapi ia lahir dari dunia yang jauh dari kata sederhana. Dalam bentuk kanonik yang kita terima, superskripsi menyebutnya “Mazmur Daud”. Kita tidak dapat memastikan peristiwa historis tertentu yang menjadi latarnya. Ada yang menghubungkannya dengan pemberontakan Absalom, tetapi teks sendiri tidak mengatakan demikian. Karena itu, lebih aman membiarkan Mazmur 62 menjelaskan pergumulannya sendiri. Dan yang kita temukan adalah seorang manusia yang sedang dikepung ancaman.

Ada orang yang menyerangnya. Ada rencana untuk menjatuhkannya dari kedudukannya. Ada dusta. Ada orang yang memberkati dengan mulut, tetapi mengutuk di dalam hati. Ini bukan sekadar kemurungan pribadi. Yang dipertaruhkan adalah keamanan, kedudukan, kehormatan, bahkan hidup.

Melihat hal ini, ironi Mazmur 62 menjadi tajam. Jika kita mengikuti superskripsi dan membaca Daud sebagai suara mazmur ini, ia bukan orang tanpa sumber daya. Ia jago perang, juara bertarung, memahami strategi, memimpin orang, dan pernah bertahan hidup di tengah pengejaran. Apakah semua hal itu tidak mampu membuatnya tenang?

Namun dalam ayat ini, ia berkata: hanya kepada Allah jiwanya tenang.

Mengapa?

Mungkin karena pengalaman mengajarkan batas segala sesuatu yang berada di tangan manusia. Kitab Pengkhotbah memberi gema serupa: setelah menimbang jerih lelah, kenikmatan, pencapaian, dan segala sesuatu yang dikejar manusia, kitab itu menutup dengan panggilan untuk takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya.

Takhta dapat memberi kuasa, tetapi tidak dapat menjamin seseorang tidak akan dijatuhkan dari takhtanya. Pedang dapat melawan musuh yang tampak, tetapi tidak dapat menaklukkan pengkhianatan di balik senyum. Reputasi dapat membuat orang dihormati, tetapi tidak dapat menghentikan dusta. Kekayaan dapat memperbesar pilihan, tetapi tidak dapat membeli kepastian mengenai hari esok.

Mazmur ini tidak berkata bahwa semua itu tidak berguna. Ia mengatakan sesuatu yang lebih tajam: tidak satu pun cukup kuat untuk menjadi tempat bersandar terakhir bagi sebuah jiwa.

“Hanya”, Kata Kecil yang Membongkar Banyak Hal

Teks Ibrani Mazmur 62 berulang kali memakai kata ’akh. Kata itu muncul enam kali dan dapat membawa nuansa “sungguh”, “memang”, atau dalam konteks tertentu “hanya”. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak membangun seluruh teologi dari satu arti kamus saja.

Namun struktur ayat 1–2 dan pengulangannya pada ayat 5–6 memperlihatkan arah pemikiran sang pemazmur. Kepada Allah ia menunggu. Dari Allah datang keselamatannya. Allah adalah gunung batu, keselamatan, dan bentengnya. Ketika mazmur bergerak maju, manusia, penindasan, perampasan, dan kekayaan satu per satu ditolak sebagai objek kepercayaan terakhir.

Jadi, “hanya Allah” bukan slogan sentimental. Itu adalah kesimpulan dari sebuah evaluasi.

Daud tidak sedang berkata, “Karena aku percaya kepada Allah, aku tidak perlu melakukan apa-apa.” Kehidupannya sendiri tidak memungkinkan pembacaan semacam itu. Ia berdoa dan menyusun strategi. Ia berharap kepada Allah dan tetap mengambil keputusan. Iman tidak membatalkan tanggung jawab.

Maka, “hanya Allah” bukan berarti Allah menggantikan seluruh sarana manusia. Artinya, tidak satu pun sarana manusia boleh menggantikan Allah. Pedang boleh berada di tangan, tetapi pedang tidak boleh menjadi tempat hati bersandar. Jabatan boleh dimiliki, tetapi jabatan tidak boleh memikul seluruh identitas kita. Harta boleh bertambah, tetapi Mazmur 62 sendiri memperingatkan: jangan menaruh hati padanya.

Masalah bukan dimulai ketika manusia memiliki sesuatu.

Masalah dimulai ketika manusia meminta kepada sesuatu itu apa yang tidak pernah sanggup diberikannya: keselamatan terakhir bagi jiwa.

Apa Artinya “Dekat”?

Ada sesuatu yang menarik dalam terjemahan Indonesia. Kata “dekat” tidak muncul secara harfiah dalam baris Ibrani itu. Teks Masoret berbunyi ’akh el-Elohim dumiyyah nafshi. Secara lebih literal, gagasannya adalah jiwa yang diam atau menanti kepada Allah.

Ini membuat kata “dekat” semakin indah bila dipahami dengan benar. Kedekatan di sini bukan terutama persoalan jarak geografis. Yang dibicarakan adalah orientasi: kepada siapa jiwa menghadap, menunggu, berharap, dan menyerahkan berat dirinya.

Seseorang dapat berada di tempat ibadah tetapi hatinya bersandar sepenuhnya pada uang, kedudukan, atau pengakuan manusia. Sebaliknya, seseorang dapat berada sendirian dalam kesesakan, kehilangan segalanya, nyaris tanpa kata-kata, tetapi seluruh dirinya sedang menghadap kepada Allah.

Dekat bukan pertama-tama soal lokasi. Dekat adalah soal pusat. Dan mungkin di situlah manusia sering keliru. Kita ingin Allah berada dekat dengan kehidupan kita, tetapi kita tetap menghendaki hal-hal lain menjadi pusatnya.

Ketenangan yang Tidak Bergantung pada Keadaan

Kata yang membawa gagasan diam atau tenang pada awal mazmur adalah dumiyyah. Pada pengulangan di ayat 5, bentuknya berubah menjadi seruan kepada diri sendiri. Pemazmur seperti memerintahkan jiwanya: diamlah, nantikanlah Allah. NET Bible juga menangkap perubahan ini sebagai dorongan sang pemazmur kepada dirinya sendiri untuk mempertahankan kepercayaannya kepada Allah.

Ini bukan ketenangan karena masalah selesai. Musuh belum tentu pergi. Dusta belum tentu berhenti. Ancaman belum tentu lenyap. Tetapi sesuatu di dalam diri sang pemazmur tidak lagi menyerahkan pusat hidupnya kepada semua itu.

Di sini kita menemukan perbedaan antara kenyamanan dan ketenangan. Kenyamanan membutuhkan keadaan yang mendukung: rekening cukup, tubuh sehat, pekerjaan aman, hubungan baik. Tetapi jika kita hanya dapat tenang ketika semuanya sesuai harapan, kita mungkin hanya sedang menikmati jeda antara dua ketidakpastian.

Ketenangan Mazmur 62 berbeda. Ini bukan ketenangan karena dunia berhenti berguncang. Ini lahir ketika di tengah dunia yang masih berguncang, jiwa menemukan tempat yang tidak ikut berguncang.

Itulah sebabnya mazmur memakai bahasa “gunung batu”, “keselamatan”, “benteng”, dan “tempat perlindungan”. Fokusnya bukan pada kemampuan manusia mempertahankan stabilitas, melainkan pada Allah sebagai dasar stabilitas itu.

“Jiwa” di sini menerjemahkan nephesh, kata yang tidak seharusnya dibatasi hanya pada perasaan atau sisi rohani manusia. Dalam konteks ini ia menunjuk kepada diri atau pribadi secara utuh.

Daud tidak sedang mencari teknik untuk merasa lebih baik. Ia sedang menentukan di mana seluruh dirinya akan bersandar.

Allah yang Dapat Dipercaya

Mazmur 62 juga tidak berbicara tentang “Allah” sebagai gagasan spiritual yang samar. Allah yang menjadi tempat perlindungan itu dikenal melalui siapa Dia dan apa yang dilakukan-Nya. Ia disebut batu karang, keselamatan, benteng, pengharapan, dan perlindungan.

Pada bagian akhir mazmur, dua kenyataan ditempatkan berdampingan: kuasa adalah milik Allah dan kasih setia adalah milik Tuhan. Kombinasi itu penting. Kuasa tanpa kasih akan membuat manusia takut mendekat. Kasih tanpa kuasa mungkin menghibur, tetapi tidak cukup untuk menjadi dasar keselamatan.

Allah yang dijelaskan dalam Mazmur 62 bukan hanya mampu menolong. Ia juga setia. Karena itu, ketenangan di hadapan Allah tidak berarti penyangkalan emosi. Ayat 8 justru memerintahkan umat untuk mencurahkan isi hati di hadapan-Nya. Sejumlah penafsir melihat “mencurahkan hati” di sini sebagai bahasa doa yang jujur, bahkan intens, bukan penindasan terhadap rasa takut dan kesesakan.

Betapa menarik: mazmur yang berbicara tentang diam juga berbicara tentang mencurahkan hati. Tidak ada kontradiksi. Diam bukan berarti tidak berkata-kata. Diam berarti berhenti menjadikan kegelisahan sebagai tuan. Mencurahkan hati berarti membawa kegelisahan itu kepada tempat yang benar.

Iman Alkitabiah tidak menuntut manusia berpura-pura tidak takut. Ia mengajar manusia ke mana ketakutannya harus dibawa.

Saat Daud Berbicara kepada Jiwanya

Pada awal mazmur terdapat pengakuan tentang jiwa yang menanti Allah. Beberapa ayat kemudian, bahasa itu menjadi percakapan dengan diri sendiri: sang pemazmur menyerukan kepada jiwanya untuk kembali diam menantikan Allah, sebab dari Dialah harapannya. Struktur pengulangan ayat 1–2 pada ayat 5–6 merupakan salah satu ciri utama mazmur ini.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi di sini. Kadang iman hadir sebagai keyakinan yang kita ucapkan dengan mantap. Pada saat lain, kebenaran yang sama harus kita katakan kembali kepada jiwa kita sendiri.

Sebab dunia tidak pernah berhenti berbicara. Kegagalan berkata: selesai sudah. Kehilangan berkata: tidak ada lagi masa depan. Kekuasaan berkata: tanpa aku engkau bukan siapa-siapa. Uang berkata: selama aku ada, engkau aman. Pendapat manusia berkata: nilai dirimu bergantung kepada penilaian kami.

Mazmur 62 membalik arah percakapan itu. Daud tidak hanya mendengarkan jiwanya. Ia berbicara kepada jiwanya: hanya kepada Allah.

Tempat yang Cukup Kuat untuk Jiwa

Di bagian akhir mazmur, manusia digambarkan seperti embusan jika diletakkan pada timbangan. Penindasan tidak boleh dipercaya. Hasil rampasan tidak boleh menjadi harapan. Bahkan ketika kekayaan bertambah, hati tidak boleh diletakkan di sana.

Bukan karena manusia, kekayaan, kekuasaan, atau pekerjaan sama sekali tidak bernilai. Melainkan karena semuanya terbatas. Dan sesuatu yang terbatas akan hancur jika dipaksa menanggung tuntutan yang tak terbatas.

Kita sering meminta karier untuk memberi identitas, meminta pasangan untuk menyembuhkan seluruh kesepian, uang untuk menjamin masa depan, reputasi untuk menetapkan nilai diri, dan kekuasaan untuk mengusir ketakutan. Lalu kita heran mengapa jiwa tetap gelisah.

Mungkin masalah manusia bukan karena ia tidak mempunyai cukup banyak tempat untuk berlari. Mungkin kita terlalu lama berlari kepada tempat-tempat yang memang tidak pernah dirancang untuk menanggung berat jiwa kita.

Daud memiliki kedudukan. Ia mengenal kekuatan. Ia tahu bagaimana bertempur. Namun pengalaman membawa dirinya kepada suatu pengakuan yang lahir dari kejernihan melihat batas manusia.

Ada beban yang tidak dapat ditanggung takhta.

Ada ketakutan yang tidak dapat dikalahkan pedang.

Ada kehampaan yang tidak dapat dipenuhi kekayaan.

Ada ketenangan yang tidak dapat diproduksi keadaan.

Karena itu, setelah strategi disusun, pekerjaan dilakukan, risiko diperhitungkan, dan kemampuan manusia digunakan dengan bertanggung jawab, jiwa masih membutuhkan satu jawaban terakhir: Di mana aku akan bersandar jika semua yang dapat berguncang mulai berguncang?

Mazmur 62 tidak menjawab dengan sebuah teknik. Ia menunjuk kepada Pribadi.

“Hanya dekat Allah saja aku tenang.”

Bukan karena tidak ada lagi yang dapat dilakukan manusia, melainkan karena pada akhirnya manusia harus mengetahui kepada siapa seluruh hidupnya dapat dipercayakan.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

6 reaksi 252 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →