Langkah Kuda
Bacaan Ringan

Kamu Gagal, Tapi Bukan Berarti Kamu Adalah Kegagalan

Tentang kegagalan, pikiran yang menghakimi diri sendiri, dan belajar menjadi manusia yang lebih ramah kepada diri sendiri.

Tentang Kegagalan, Pikiran yang Menghakimi
Tentang Kegagalan, Pikiran yang Menghakimi Ilustrasi Gambar

Dinda duduk sendirian di toilet kantor, menahan air mata setelah presentasinya berantakan.

Padahal, ia sudah mempersiapkan semuanya selama berhari-hari. Materi dipelajari, slide disusun rapi, dan ia berlatih berkali-kali. Namun, saat tiba waktunya berbicara, ia gugup dan kehilangan kata-kata.

“Aku memalukan banget.”

“Pasti semua orang kecewa.”

“Sepertinya aku memang nggak bisa apa-apa.”

Bagi Dinda, presentasi yang buruk bukan lagi sekadar pengalaman mengecewakan. Ia mulai menggunakannya untuk menilai seluruh dirinya.

Mungkin, tanpa sadar, kita juga pernah menjadi Dinda. Gagal ujian, lalu merasa bodoh. Ditolak pekerjaan, lalu merasa tidak cukup baik. Ditinggalkan seseorang, lalu mempertanyakan apakah diri kita memang tidak layak dicintai.

Kita tidak hanya berkata, “Aku melakukan kesalahan,” tetapi melangkah lebih jauh dengan berpikir, “Aku adalah sebuah kesalahan.”

Padahal, keduanya berbeda.

Ketika Pikiran Membuat Kegagalan Terasa Lebih Menyakitkan

Dalam psikologi, Albert Ellis mengembangkan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), yang menjelaskan bahwa emosi kita tidak hanya dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi, tetapi juga oleh keyakinan kita terhadap peristiwa tersebut.

Sederhananya, bukan hanya apa yang terjadi yang penting, melainkan juga bagaimana kita memaknainya.

Dua orang bisa sama-sama gagal dalam wawancara kerja. Seseorang mungkin berpikir, “Aku belum berhasil. Apa yang bisa aku perbaiki?” Sementara yang lain berpikir, “Aku ditolak karena aku memang tidak berguna.”

Peristiwanya sama, tetapi keyakinan yang berbeda dapat memengaruhi perasaan dan tindakan mereka.

REBT mengajak kita untuk menantang keyakinan yang tidak rasional. Kita bisa mulai dengan bertanya: apakah satu kegagalan benar-benar membuktikan bahwa aku tidak mampu? Apakah adil menilai seluruh diriku hanya dari satu kejadian?

Kita tidak harus memaksakan diri untuk selalu berpikir positif. Kita boleh sedih, kecewa, dan mengakui bahwa sesuatu memang berjalan buruk. Namun, kita juga perlu belajar membedakan antara kegagalan yang kita alami dan nilai diri kita sebagai manusia.

Kamu Tetap Berharga, Bahkan Ketika Gagal

Salah satu gagasan dalam REBT adalah unconditional self-acceptance, atau penerimaan diri tanpa syarat. Artinya, kita dapat menerima diri sebagai manusia yang memiliki kekurangan tanpa harus membenarkan semua kesalahan yang kita lakukan.

Kita tetap bisa mengevaluasi tindakan, bertanggung jawab, dan memperbaiki diri tanpa membenci siapa diri kita.

Dinda mungkin memang perlu belajar mengelola kecemasan sebelum presentasi berikutnya. Namun, ia tidak perlu menyebut dirinya tidak berguna untuk bisa berkembang.

Begitu pula dengan kita. Kita boleh mengakui bahwa kita salah tanpa merasa bahwa kita adalah orang yang buruk. Kita boleh belum berhasil tanpa menyimpulkan bahwa kita tidak akan pernah berhasil.

Jadi, jika hari ini kamu merasa gagal, berhentilah sebentar. Akui kekecewaanmu, beri dirimu waktu, lalu tanyakan: Apa yang bisa kupelajari dari kejadian ini tanpa harus membenci diriku sendiri?

Sebab, kamu mungkin gagal dalam satu hal. Kamu mungkin belum sampai di tempat yang kamu inginkan. Namun, satu pengalaman tidak pernah cukup untuk mendefinisikan seluruh dirimu.

Kamu bukan kegagalan itu sendiri. Kamu adalah manusia yang sedang bertumbuh, dan kamu tidak harus menjadi sempurna untuk tetap berharga.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

4 reaksi 63 clap 0 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →