Langkah Kuda
Bacaan Ringan

Luka yang Mengajarkanku Pulang

Cover buku Luka yang Mengabarkanku Pulang
Cover buku Luka yang Mengabarkanku Pulang Penerbit Detak Pustaka

Kemarin, sesuatu yang dulu hanya hidup di dalam kepala dan hati saya akhirnya punya bentuk. Luka Yang Mengajarkanku Pulang, sebuah buku yang lahir dari bagian-bagian hidup yang pernah ingin saya sembunyikan.

Dulu saya menulis karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Ada perasaan yang terlalu panjang untuk dijelaskan, pertanyaan yang terlalu lama tinggal di kepala, dan kesedihan yang tidak selalu bisa ditangisi. Maka saya menuliskannya, satu halaman demi satu halaman, sampai tanpa sadar potongan-potongan itu menjadi sebuah cerita.

Namun perjalanan buku ini tidak selalu berjalan baik-baik saja.

Saya pernah berhenti. Pernah merasa tidak sanggup membukanya lagi, karena beberapa halaman ternyata bukan hanya berisi cerita, tetapi juga bagian dari diri saya yang belum selesai berdamai.

Kemudian saya kembali.

Dan mungkin, tanpa saya sadari, ketika kembali menyelesaikan buku ini, saya juga sedang belajar kembali kepada diri sendiri.

Saya belajar bahwa sembuh tidak selalu berarti tidak lagi menangis ketika mengingat masa lalu. Kadang, sembuh hanya berarti kita sudah bisa mengingatnya tanpa membenci diri sendiri.

Ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki. Ada orang-orang yang tidak bisa kembali. Ada kasih sayang yang mungkin tidak pernah kita dapatkan dengan cara yang kita harapkan. Ada pula masa kecil yang tidak mungkin kita ulang untuk memberikan apa yang dulu kita butuhkan.

Tetapi hidup tetap berjalan.

Dan ternyata, kita tetap bisa tumbuh.

Saya mulai menyadari bahwa selama ini saya terlalu sibuk mencari tempat untuk pulang. Padahal Allah tidak pernah menyuruh saya mencari terlalu jauh.

Saya hanya perlu kembali.

Kembali kepada doa-doa yang pernah saya panjatkan ketika tidak ada siapa-siapa. Kembali kepada sujud, tempat menitipkan hal-hal yang tidak mampu saya ucapkan kepada manusia. Kembali kepada Allah, yang tetap ada bahkan ketika banyak hal dalam hidup terasa pergi.

Ketika buku ini akhirnya terbit, rasanya bukan sekadar sebuah karya yang selesai. Rasanya seperti berdiri di depan masa lalu saya sendiri dan berkata:

“Terima kasih sudah membawaku sampai sejauh ini. Tapi setelah ini, biarkan aku berjalan lebih jauh tanpa terus membawa semuanya.”

Untuk diri saya yang dulu, yang pernah merasa sendirian, bertanya mengapa hidup harus terasa seperti ini, menangis diam-diam, lalu tetap mencoba bangun keesokan harinya: ternyata kita berhasil sampai di sini.

Bukan karena semuanya menjadi mudah, tetapi karena Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.

Kini saya tidak lagi ingin melihat luka sebagai sesuatu yang harus disesali.

Dari sanalah saya belajar menulis.
Dari sanalah saya belajar menerima.
Dari sanalah saya belajar memaafkan.
Dan dari sanalah saya akhirnya belajar pulang.

Terima kasih, luka. Bukan karena aku ingin mengulanginya, tetapi karena tanpanya mungkin aku tidak akan pernah tahu betapa indahnya menemukan jalan pulang kepada Allah.

Bagi pembaca yang ingin mengenal lebih jauh perjalanan dalam Luka Yang Mengajarkanku Pulang, buku ini dapat diperoleh melalui laman resmi penjualan berikut:

Dapatkan buku Luka Yang Mengajarkanku Pulang di sini

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

3 reaksi 100 clap 0 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →