Langkah Kuda
Esai Panjang

Mengapa Memilih Aku? Psikologi di Balik Pilihan Seorang Perundung

Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang
Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang Arum Abygail

Mengapa Seseorang Memilih Individu untuk Disakiti?

Pernahkah terbersit di dalam benak kita suatu pertanyaan, mengapa dalam sebuah kelompok selalu ada seseorang yang lebih sering menjadi sasaran ejekan, dipermalukan, dikucilkan, atau disakiti? Mengapa perundungan seakan-akan tidak terjadi secara acak, melainkan berulang kali tertuju pada individu yang sama? Di antara sekian banyak orang dalam kelompok, mengapa seseorang memutuskan individu tertentu “layak” menjadi bahan tertawaan atau sasaran kebenciannya?

Bagi korban, pertanyaan itu tidak akan pernah berhenti, bahkan ketika perundungan telah berakhir. Ia bisa terus hidup dalam pikiran, menggerogoti kepercayaan diri, dan perlahan mengubah cara memandang dirinya sendiri.

“Mengapa aku? Apa yang salah denganku?”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting justru mengarah kepada mereka yang selama ini melakukan perundungan. Apa sih sebenarnya yang membuat seseorang memilih untuk menyakiti orang lain? Lantas mengapa ia merasa berkuasa ketika melakukannya?

Memahami psikologi di balik pemilihan target seorang perundung barangkali bisa menjadi langkah penting. Membuat kita melihat bullying bukan sekadar persoalan perilaku, tetapi juga persoalan relasi kuasa, kebutuhan psikologis, dan lingkungan sosial yang memungkinkan kekerasan terus berulang.

Memahami Pemilihan Target Bullying

Untuk memahami mengapa seorang perundung memilih individu tertentu sebagai sasaran, ada dua pendekatan teoretis penting. Pertama, teori pembelajaran sosial Albert Bandura yang menjelaskan bagaimana pelaku mempelajari perilaku agresif. Kedua, pendekatan Dan Olweus yang memetakan pola bullying, karakteristik pelaku dan korban, serta peran lingkungan sosial.

Keduanya saling melengkapi. Bandura menjelaskan mekanisme belajar, sedangkan Olweus menjelaskan konteks dan pola perundungan yang berulang.

Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura

Penelitian klasik Albert Bandura tentang transmisi agresi melalui imitasi model menunjukkan bahwa anak-anak dapat meniru perilaku agresif yang mereka amati, bahkan ketika model tersebut sudah tidak hadir dalam situasi yang sama.

Pelaku tidak harus mengalami sendiri perilaku agresif untuk kemudian menampilkannya. Cukup dengan mengamati model agresi, individu dapat mempelajari, mengingat, kemudian mereproduksi perilaku tersebut di sekitarnya.

Proses pembelajaran observasional berlangsung melalui empat tahap: atensi, retensi, reproduksi, dan motivasi. Dalam konteks perundungan, pelaku dapat mengamati orang tua, teman sebaya, tokoh media, maupun senior yang berhasil mendominasi orang lain.

Jika perilaku tersebut justru mendapat tawa dan dukungan, motivasi untuk menirunya dapat semakin kuat (Bandura et al., 1961).

Hal penting lainnya adalah bagaimana pelaku mempelajari respons terhadap sasaran tertentu. Individu yang dianggap lebih lemah atau kurang mendapatkan perlindungan dapat dipersepsikan sebagai target yang lebih mudah diserang.

Pelaku memilih korban bukan karena ia pantas disakiti, melainkan karena melihatnya sebagai sasaran yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan pelaku.

Pendekatan Dan Olweus tentang Bullying

Dan Olweus (1993) menjelaskan bullying sebagai perilaku agresif yang berlangsung berulang dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan. Pelaku cenderung menargetkan individu yang dianggap lebih sulit mempertahankan diri, baik secara fisik maupun sosial.

Olweus juga menekankan pentingnya lingkungan. Perundungan berkembang di tempat dengan pengawasan lemah, minim intervensi, dan norma yang menoleransi perilaku agresif.

Kehadiran penonton yang tertawa atau mendukung sering kali memperkuat perilaku pelaku. Sementara itu, sebagian orang memilih diam karena takut menjadi sasaran berikutnya.

Karakteristik korban, seperti terlihat berbeda, pendiam, atau kurang populer, bukanlah penyebab yang membenarkan perundungan. Pelaku dapat memanfaatkan karakteristik tersebut, tetapi tanggung jawab tetap berada pada pelaku dan lingkungan yang membiarkan kekerasan berlangsung.

Integrasi Kedua Pendekatan

Bandura menjelaskan bagaimana perilaku agresif dipelajari melalui observasi. Sementara Olweus memperlihatkan pola sosial yang membuat perundungan terus berulang.

Gabungan keduanya memberikan kerangka yang lebih utuh. Pelaku dapat memilih target berdasarkan pengalaman belajar, respons lingkungan, serta ketidakseimbangan kekuasaan yang membuat individu tertentu lebih rentan menjadi sasaran.

Faktor pada Pelaku Bullying: Ketika Menyakiti Orang Lain Menjadi Cara untuk Merasa Berkuasa

Di balik tindakan bullying, terdapat beragam kemungkinan yang berkaitan dengan kebutuhan psikologis dan cara pelaku membangun hubungan dengan orang lain.

Sebagian perundung menggunakan agresi untuk memperoleh dominasi, mempertahankan status sosial, atau mendapatkan pengakuan kelompok. Namun, bisa juga sebagai cara menutupi rasa tidak aman, frustrasi, atau kebutuhan untuk merasa lebih unggul dengan merendahkan individu lain.

Dalam situasi tertentu, menyaksikan orang lain merasa takut, malu, atau tidak berdaya dapat memberikan kepuasan kepada pelaku karena ia merasa memiliki kendali.

Namun, tidak semua perundung memiliki latar belakang psikologis yang sama. Rasa tidak aman bukan penjelasan tunggal. Rendahnya kepekaan terhadap penderitaan orang lain, kecenderungan membenarkan agresi, serta pengalaman dalam lingkungan yang menormalisasi kekerasan juga berperan.

Ketika seseorang terbiasa melihat penghinaan sebagai sesuatu yang lucu, agresi dapat menjadi simbol kekuatan. Dominasi pun dianggap sebagai cara memperoleh penghormatan.

Persepsi terhadap Target

Pemilihan korban tidak lepas dari cara pelaku memandang individu lain. Seseorang dapat menjadi target karena dianggap berbeda dari kelompok, baik dalam penampilan, karakter, minat, maupun latar belakang.

Stereotip dan prasangka terkait budaya, gender, agama, orientasi seksual, status sosial, atau kemampuan tertentu sering kali ikut memperkuat persepsi tersebut.

Selain itu, pelaku dapat melihat individu yang kurang memiliki dukungan sosial atau dianggap tidak mampu melawan sebagai sasaran yang lebih mudah.

Reaksi emosional yang terlihat, seperti menangis atau merasa tersakiti, terkadang dimanfaatkan pelaku sebagai bentuk penguatan. Namun, respons korban bukanlah penyebab ataupun pembenaran tindakan perundungan.

Salah dalam Memahami Karakteristik Target

Ada sejumlah ciri yang sering dikaitkan dengan korban bullying, seperti terlihat berbeda atau unik, pendiam, sensitif, berprestasi, atau dianggap “terlalu baik”. Sebagian korban juga memiliki karakteristik fisik maupun latar belakang yang berbeda dari kelompok dominan.

Namun, karakteristik ini bukan penyebab. Tidak ada satu ciri pun yang membuat seseorang pasti menjadi korban, apalagi pantas untuk disakiti.

“Menempatkan tanggung jawab pada karakteristik korban justru mengalihkan perhatian dari perilaku pelaku dan sistem yang membiarkannya.”

Pelaku memanfaatkan perbedaan atau kerentanan yang dipersepsikannya untuk membangun dominasi. Karena itu, menyalahkan korban hanya akan mengaburkan persoalan yang sebenarnya.

Dinamika Kelompok Sebaya

Perundungan jarang terjadi dalam ruang kosong. Kelompok sebaya memainkan peran besar. Keinginan untuk diterima, mendapat perhatian, atau memperoleh dukungan kelompok dapat menjadi pendorong seseorang melakukan perundungan.

Kehadiran penonton yang tertawa atau ikut mengejek memberikan penguatan kepada pelaku. Sementara itu, mereka yang tidak setuju terkadang memilih diam karena takut dikucilkan.

Pengucilan juga dapat digunakan untuk mempertegas identitas kelompok, membedakan “kita” dari “mereka”. Dalam kerangka Olweus, dinamika inilah yang menjadikan bullying sebagai fenomena sosial, bukan sekadar persoalan individu.

Situasi dan Lingkungan

Lingkungan dengan pengawasan lemah, budaya yang menoleransi agresi, dan kurangnya intervensi menciptakan ruang bagi perundungan untuk terus berlangsung.

Ketimpangan kekuasaan berdasarkan usia, peran, maupun popularitas turut memperbesar peluang terjadinya perundungan. Media sosial bahkan memperluas ruang tersebut. Penghinaan dapat terjadi kapan saja, menjangkau lebih banyak orang, dan meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

Ketika norma sosial menganggap penghinaan sebagai candaan yang wajar, lingkungan seakan menyampaikan pesan bahwa menyakiti orang lain merupakan sesuatu yang lumrah.

Alasan Mengapa Mereka Memilih Individu Tertentu

Secara ringkas, pelaku dapat memilih individu tertentu karena dianggap lebih mudah diserang, kurang mendapatkan perlindungan, atau memiliki posisi sosial yang lebih lemah.

Perundungan juga dapat digunakan untuk mempertahankan status sosial, memperoleh perhatian, menegaskan identitas kelompok, atau berkaitan dengan konflik sebelumnya.

Dalam pembelajaran sosial, respons yang dianggap menguntungkan dapat memperkuat perilaku agresif. Sementara dalam pendekatan Olweus, ketidakseimbangan kekuasaan menjadi unsur penting yang memungkinkan perundungan berulang.

Pemilihan tersebut mungkin memiliki tujuan tertentu dari sudut pandang pelaku, tetapi tetap tidak dapat dibenarkan secara moral maupun sosial.

Dampak Pemilihan Target yang Berulang

Ketika seseorang berulang kali menjadi target, dampaknya tidak berhenti pada rasa sakit sesaat. Korban dapat merasa tidak aman, kehilangan kepercayaan diri, mengalami kesulitan sosial, hingga menghadapi persoalan kesehatan mental dan akademik.

Pada saat yang sama, pola perundungan dapat semakin menguat ketika pelaku tidak menghadapi konsekuensi yang jelas dan lingkungan gagal memberikan perlindungan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Menghentikan perundungan bukanlah meminta korban untuk bertahan. Kita perlu membangun budaya sekolah dan komunitas yang aman serta inklusif, tempat perbedaan tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Pendidikan empati dan keterampilan sosial perlu diperkuat, baik di sekolah maupun di rumah. Intervensi yang jelas terhadap perundungan, dukungan kepada korban tanpa menyalahkan mereka, serta konsekuensi yang konsisten bagi pelaku merupakan langkah penting.

Bandura menjelaskan bahwa perilaku agresif dapat dipelajari. Karena itu, perilaku tersebut juga dapat diubah melalui model yang lebih positif dan lingkungan yang tidak menoleransi kekerasan.

Pertanyaan “Mengapa memilih aku?” tidak akan terjawab dengan mencari kesalahan pada diri korban. Ia terjawab ketika kita menelaah bagaimana seseorang belajar bahwa menyakiti orang lain dapat memberinya kuasa, bagaimana kelompok memperkuat perilaku itu, dan bagaimana ketidakseimbangan kekuasaan membuat individu tertentu lebih mudah menjadi sasaran.

Memahami psikologi di balik pilihan seorang perundung bukan berarti membenarkan tindakannya. Sebaliknya, pemahaman ini membuka jalan untuk menantang pola pikir, perilaku, dan sistem yang membuat seseorang merasa berhak merendahkan orang lain.

“Selama masih ada pertanyaan ‘Apa yang salah denganku?’, artinya kita belum sepenuhnya mengalihkan sorotan ke tempat yang seharusnya: kepada mereka yang memilih untuk menyakiti, dan kepada lingkungan yang membiarkan bullying terjadi.”


Tentang Penulis

Penulis adalah mahasiswi Program Magister (S2) Psikologi di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

2 reaksi 50 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →