Langkah Kuda
Kisah & Pengalaman

Pulang kepada Diri Sendiri

Ilustrasi
Ilustrasi Dokumentasi Pribadi

Malam selalu menjadi waktu yang paling sulit bagi Rani.

Ketika dunia mulai sunyi, pikirannya justru semakin ramai. Kenangan tentang seseorang yang pernah ia cintai datang tanpa permisi. Percakapan lama terputar kembali, janji-janji yang pernah terdengar begitu meyakinkan, hingga pertanyaan yang terus menghantuinya:

“Apa aku memang tidak cukup baik untuk dipertahankan?”

Dadanya terasa sesak. Napasnya pendek, jemarinya gemetar. Ada saat-saat ketika ia merasa tubuhnya berada di kamar, tetapi dirinya seolah menghilang entah ke mana.

Rani lelah. Ia ingin berhenti memikirkan semuanya, tetapi semakin ia berusaha melupakan, semakin kuat kenangan itu menariknya kembali.

Malam itu, ia mencoba sesuatu yang pernah didengarnya: grounding.

Grounding adalah cara sederhana untuk membawa perhatian kembali pada apa yang sedang ada di sekitar kita dan apa yang sedang dirasakan tubuh, terutama ketika pikiran terasa terseret kembali pada pengalaman yang menyakitkan.

Rani membuka mata dan memandang sekeliling kamarnya. Ia menyebutkan lima benda yang bisa dilihatnya: lampu tidur, tirai putih, buku di meja, gelas kosong, dan jam dinding. Ia menyentuh selimutnya, merasakan teksturnya yang lembut. Ia mendengarkan suara kipas angin, lalu menyadari aroma sabun yang masih tertinggal di tangannya.

Perlahan, ia menarik napas dan mengembuskannya lebih panjang.

Tidak ada keajaiban. Kenangan itu tidak langsung hilang. Dadanya masih terasa berat, dan hatinya masih menyimpan luka yang belum selesai.

Namun, untuk pertama kalinya malam itu, Rani menyadari sesuatu: ia sedang duduk di kamarnya, bukan sedang berada di hari ketika seseorang meninggalkannya.

Ia menyentuh dadanya pelan.

“Aku memang pernah terluka,” bisiknya. “Tapi sekarang, aku sedang di sini.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan, sebagian dirinya masih sulit mempercayainya. Namun, malam itu ia memilih untuk tidak memaksa dirinya segera sembuh.

Ia mulai menyadari bahwa selama ini, ia terlalu sibuk mencari alasan mengapa seseorang pergi, sampai lupa menemani dirinya sendiri yang ditinggalkan.

Ia terlalu sibuk mencari alasan mengapa seseorang pergi, sampai lupa menemani dirinya sendiri yang ditinggalkan.

Rani memejamkan mata. Ia merasakan kedua kakinya menyentuh lantai. Ia menggerakkan jemari kakinya, merasakan tubuhnya, dan membiarkan napasnya mengalir dengan perlahan.

Mungkin, pulih bukan tentang melupakan seseorang sepenuhnya. Mungkin, pulih adalah belajar membedakan masa lalu yang menyakitkan dengan hari ini yang masih bisa dijalani.

Sebelum tidur, Rani menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya masih sembap, tetapi kali ini ia tidak memalingkan wajah.

“Aku tidak harus baik-baik saja malam ini,” katanya kepada dirinya sendiri. “Aku hanya perlu tetap di sini, bersamaku.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rani merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Sebab, meskipun seseorang telah pergi, masih ada satu orang yang bisa ia peluk, ia dengarkan, dan ia temani untuk bertumbuh.

Dirinya sendiri.

Malam itu, Rani belajar bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke suatu tempat. Terkadang, pulang adalah ketika kita akhirnya berhenti meninggalkan diri sendiri.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

3 reaksi 57 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →