Langkah Kuda
Kisah & Pengalaman

Repetition compulsion

Repetition Compulsion
Repetition Compulsion Dokumentasi Pribadi

Pasti kalian pernah merasa, setiap dapat pasangan, selalu muncul pertanyaan: kenapa sih tipe aku selalu yang bikin sakit hati?

Jujur aja, kalian pernah mikir nggak kalau red flag mereka itu sebenarnya seperti undangan buat alam bawah sadar kamu?

Kenapa Kita Mengulang Pola yang Sama?

Sigmund Freud membahas kecenderungan mengulang pengalaman dalam pemikiran psikoanalisisnya. Gagasan ini kemudian dikenal sebagai repetition compulsion, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengulangi pola pengalaman tertentu, termasuk pengalaman yang menyakitkan.

Dalam sudut pandang psikoanalisis, pengulangan ini dapat dipahami sebagai usaha yang tidak disadari untuk menghadapi kembali pengalaman masa lalu, seolah-olah kali ini kita bisa mengubah akhirnya.

Simpelnya, kamu kayak lagi muter lagu sedih yang sama berulang-ulang, berharap kali ini ending-nya menjadi bahagia, padahal liriknya nggak pernah berubah.

“Aku bisa memperbaikinya. I can fix him. I can fix her.”

Nah, ini yang kadang jadi misi rahasia kita.

Kamu mungkin tertarik sama orang yang emotionally unavailable, alias sulit hadir secara emosional. Bisa jadi, pola hubungan itu mengingatkanmu pada pengalaman bersama orang tua atau orang-orang yang pernah mengasuhmu dahulu.

Dalam pendekatan psikoanalisis, ada gagasan tentang keinginan untuk memperoleh kendali atau mastery atas pengalaman yang sebelumnya membuat seseorang merasa tidak berdaya.

Dulu, waktu kecil, kamu mungkin merasa nggak berdaya ketika diabaikan atau disakiti. Sekarang, setelah dewasa, tanpa sadar kamu bisa saja tertarik pada situasi serupa karena berharap kali ini kamu dapat “menang” dan mengubah akhirnya.

“Kalau aku bisa bikin cewek dingin ini luluh, berarti aku berharga.”

Ingat aja satu kata ini: jebakan Batman!

Nyaman, tapi Menyakitkan?

Manusia cenderung mengenali dan membentuk ekspektasi berdasarkan pengalaman yang familiar. Masalahnya, sesuatu yang terasa familiar belum tentu sehat.

Analoginya, kalau dari kecil kamu terbiasa melihat cinta sebagai sesuatu yang penuh chaos, drama, dan kejar-kejaran, hubungan yang tenang dan secure mungkin justru terasa membosankan atau aneh.

Bukan berarti semua orang dengan pengalaman masa kecil yang sulit pasti akan mengalami hal tersebut. Tetapi pengalaman hubungan sebelumnya memang dapat memengaruhi cara seseorang memahami kedekatan dan rasa aman.

Kamu merasa chemistry-nya kuat banget?

“Hati-hati, jangan-jangan yang kamu sebut chemistry itu sebenarnya pola luka lama yang terasa familiar.”

Tentu saja, chemistry yang kuat bukan otomatis tanda trauma. Tetapi kalau ketertarikan itu terus membawa kamu ke hubungan yang menyakitkan, mungkin sudah waktunya melihat polanya lebih dalam.

Breaking the Cycle: Gimana Cara Berhentinya?

Pasti kalian nanya, kan? Kalau sudah sadar polanya, terus harus gimana?

  1. Kenali polanya. Sadari kalau rasa “tertarik banget” yang instan dan obsesif tidak selalu berarti cinta sejati. Coba perhatikan apakah hubungan itu membuatmu merasa aman atau justru terus-menerus cemas dan takut kehilangan.
  2. Izinkan dirimu bersedih. Terima bahwa kamu nggak bisa menyelamatkan masa lalu lewat orang baru. Kamu nggak harus membuat seseorang berubah hanya untuk membuktikan bahwa dirimu layak dicintai.
  3. Belajar nyaman dengan hubungan yang tenang. Orang yang baik dan konsisten mungkin awalnya terasa kurang menegangkan dibanding hubungan penuh drama. Beri dirimu waktu untuk mengenali rasa aman, tanpa harus memaksakan ketertarikan yang memang tidak ada.

Jadi, Apa Intinya?

Intinya mah gini, ya gengs: luka masa lalumu itu butuh disembuhkan, bukan dicarikan lawan main baru.

Kalau ada yang menawarkan hubungan damai, tetapi kamu merasa hubungan itu “ngebosenin”, coba jangan buru-buru menyimpulkan.

Bisa jadi kamu sedang belajar mengenali rasa aman yang selama ini belum terbiasa kamu rasakan.

Tapi ingat, hubungan yang sehat bukan sekadar hubungan tanpa drama. Harus tetap ada rasa saling menghargai, komunikasi, kepercayaan, dan keinginan untuk tumbuh bersama.

“Karena cinta yang sehat nggak harus selalu bikin kamu berjuang sampai kehilangan diri sendiri. Kadang, cinta yang baik justru datang tanpa harus membuatmu terluka lebih dulu.”

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

2 reaksi 50 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →