Langkah Kuda
Opini & Perspektif

Semua berawal dari penasaran

Anak-anak Sekolah Alam Dyatame
Anak-anak Sekolah Alam Dyatame Empriani Magi

Malam itu, saat menonton sebuah acara di TVRI, saya bertanya dengan polos kepada Bapa, “Bagaimana caranya kita masuk TV?”

Bapa mengambil palu, lalu berpura-pura memukul bagian belakang TV supaya saya bisa masuk ke dalamnya. Sementara itu, gadis kecil berusia enam tahun ini menatap TV Polytron hitam putih berukuran 14 inci dengan serius.

Dari pertanyaan sederhana itu, timbul banyak pertanyaan lain yang seolah tidak pernah habis.

Meskipun sumber informasi dari buku dan majalah sangat terbatas, gadis kecil ini seolah tidak pernah puas.

Belajar dari Kios, Bungkus Rokok, dan Hal-Hal Sederhana

Latihan berhitung sejak dini saya dapatkan secara otodidak dari kebiasaan menjadi “kasir” di kios kecil orang tua.

“Om, mau beli rokok satu bungkus. Harganya seribu rupiah. Kalau uangnya lima ribu, kembali berapa, sudah, Nona?”

Atau ketika ada yang datang membeli permen seharga lima ratus rupiah dengan uang seribu, saya kembali ditanya berapa kembaliannya.

Tak jarang jari tangan Bapa dan Mama, lidi, batu, serta kelereng menjadi alat utama untuk berhitung.

Belajar membaca juga dimulai dari apa saja yang ada di sekitar. Tulisan pada dus rokok, bungkus snack, Supermi, atau apa pun yang bisa dibaca akan saya eja dengan sekuat tenaga.

Eksperimen Pertama

Pada masa Taman Kanak-kanak, saya bersekolah di salah satu sekolah swasta Katolik di Kota Waikabubak. Nama guru saya adalah Suster Ana.

Suatu hari saat jam istirahat, kami membuat eksperimen sederhana tentang gunung berapi. Berbekal gundukan tanah yang dibentuk menyerupai gunung, soda kue, dan pewarna makanan, terciptalah “lava” merah yang menyembur ketika bahan-bahan tersebut dicampurkan.

Bagi anak kecil di kampung, hal sederhana seperti itu terasa seperti melihat sebuah keajaiban.

Tumbuh di Kampung, Bertanya tentang Dunia

Beranjak memasuki usia anak-anak dan remaja, saya tetap tumbuh di kampung. Kegiatan yang lazim dilakukan sepulang sekolah adalah memanjat pohon dan mencari kayu bakar di kebun.

Kalau sampai di tempat yang sedikit berbukit, saya dan kawan-kawan akan beristirahat sembari menikmati buah hasil panjat tadi.

Ketika melihat pesawat melintas di langit, kami akan berteriak,

“Pesawat, kasih uang dulu!”

Kalimat itu diulang berkali-kali. Kami bahkan berlomba siapa yang suaranya paling keras, seolah-olah orang di dalam pesawat benar-benar dapat mendengar kami.

Saat kelas IV SD, saya pernah bertanya kepada guru agama,

“Pak, kenapa Paskah dulu baru Natal? Apa orang meninggal dulu baru lahir, kah?”

Pertanyaan itu justru berakhir dengan saya dikeluarkan dari kelas.

Memasuki kelas V dan VI SD, saya mulai tertarik dengan Bahasa Inggris karena sering menonton acara Country Road di TVRI. Ketertarikan itu membuat saya nekat meminta Bapak agar diizinkan mengikuti les Bahasa Inggris di kota.

Maka jadilah, dengan motor GL tua, Bapak mengantar saya ke kota yang berjarak sekitar 20 kilometer dari rumah.

Globe, Atlas, dan Dunia yang Terasa Begitu Besar

Karena koleksi buku di perpustakaan sekolah sangat terbatas, setiap kali ditugaskan guru ke ruang kantor untuk mengambil kapur tulis, saya sering berdiri cukup lama di depan globe.

Saya menatapnya sambil bergumam dalam hati,

“Luar biasa sekali. Bumi bisa digambar dalam satu benda.”

Atlas adalah salah satu buku favorit saya.

Masih lekat dalam ingatan saya, ketika membuka halaman tentang Pulau Kalimantan, terdapat gambar seorang perempuan tua dengan telinga panjang karena anting yang berat dan tubuh yang dihiasi tato.

Belakangan saya baru tahu bahwa itu adalah bagian dari tradisi masyarakat Dayak, termasuk seni tato yang dikenal luas.

Ketika IPA Menjadi Pelajaran Paling Keren

Memasuki SMP, IPA menjadi pelajaran paling keren bagi saya.

Semua bermula di kelas VII ketika materi tentang sel dibahas. Ibu guru Biologi memberi kami praktik dengan membuat preparat kering dan preparat basah, lalu mengamati sel tumbuhan dan hewan di bawah mikroskop.

Ketika pertama kali melihatnya, saya sangat kagum.

Semakin banyak hal yang saya lihat, semakin banyak pula hal yang ingin saya ketahui.

Kebun mini di samping rumah pun tidak luput menjadi ruang laboratorium sederhana saya. Tempat itu saya tanami kacang hijau, vanili, dan batang ubi kayu untuk mengamati tumbuhan, cahaya, dan proses fotosintesis.

Saya juga suka sekali bermain di lapangan bersama adik. Kami berperan sebagai superhero dan sesekali mengeluarkan kekuatan super ketika “musuh” menyerang.

Saat matahari mulai terbit, saya merasa kekuatan kami sudah berkurang sehingga waktunya pulang. Walaupun tidak jarang, karena pulang terlambat, kayu kering dari Mama ikut “mendarat” di badan kami.

Akses Belajar yang Menjadi Kemewahan

Saya sadar betul bahwa akses belajar di Sumba sangat terbatas.

Untuk membaca buku saja, kami harus menunggu giliran di perpustakaan atau memesannya dari Pulau Jawa. Waktu pengirimannya lama dan harganya sering terasa tidak masuk akal bagi kami.

Saya beruntung karena Mama adalah seorang guru. Dari gajinya, beliau selalu berusaha menyisihkan uang untuk membeli buku paket pelajaran bagi kami.

Pengalaman gagal, akses buku yang terbatas, sumber informasi yang minim, dianggap berasal dari kampung, hingga stigma buruk tentang Sumba, perlahan membuat hati saya tergerak.

Saya mulai bertanya bukan lagi hanya tentang TV, globe, sel, atau pesawat.

Pertanyaannya menjadi jauh lebih besar:

Bagaimana cara membangun Sumba?

Bagi saya, jawabannya semakin lama semakin jelas: pendidikan.

Pendidikan adalah salah satu jalan untuk melawan keterbatasan akses, memperluas cara berpikir, dan memberi kesempatan kepada anak-anak dari kampung untuk melihat dunia yang lebih besar daripada lingkungan tempat mereka dilahirkan.

Saya tumbuh dengan banyak keterbatasan, tetapi rasa ingin tahu membuat keterbatasan itu tidak pernah benar-benar mampu menghentikan saya.

Dan Puji Tuhan, pada 25 April 2017, pertanyaan yang selama bertahun-tahun saya bawa itu akhirnya mulai menemukan jawabannya.

Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

1 reaksi 13 clap 2 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →