Langkah Kuda
Kisah & Pengalaman

Sunk Cost Fallacy

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi Dokumentasi pribadi

Sunk Cost Fallacy dalam Hubungan

Sunk cost fallacy dalam hubungan adalah fenomena psikologis ketika seseorang terus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat (toxic) atau tidak membahagiakan hanya karena merasa sudah menginvestasikan banyak waktu, emosi, energi, bahkan materi di dalamnya. Akibatnya, muncul perasaan rugi jika harus melepaskannya.

Padahal secara rasional, mengakhiri hubungan tersebut bisa menjadi pilihan yang lebih baik demi kebaikan dan kebahagiaan di masa depan. Ini merupakan bentuk kesalahan berpikir, atau bias kognitif, yang membuat keputusan seseorang didasarkan pada “biaya yang sudah hangus” di masa lalu, bukan pada potensi keuntungan atau kerugian di masa depan. Jika terus dibiarkan, pola ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental.

Kadang kita bertahan bukan karena hubungan itu masih baik, tetapi karena merasa terlalu banyak yang sudah diberikan untuk meninggalkannya.

Sunk Cost Fallacy dari Sudut Pandang Psikologi

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, kita bisa melihatnya melalui lima teori psikologi utama.

1. Prospect Theory: Daniel Kahneman & Amos Tversky

Prospect Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih sensitif terhadap kerugian dibandingkan keuntungan. Kehilangan sering kali terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan kesenangan ketika memperoleh sesuatu yang baru.

Karena itu, ketika kamu sudah menginvestasikan waktu, cinta, atau materi, melepaskannya dapat terasa seperti memotong bagian dari diri sendiri. Padahal, merelakan kerugian bukanlah sebuah kegagalan, melainkan bisa menjadi bentuk adaptasi psikologis yang sehat.

Melepaskan sesuatu yang sudah banyak kita perjuangkan tidak selalu berarti kalah. Kadang itu justru menjadi cara paling sehat untuk berhenti menambah kerugian.

2. Emotional Investment: John Gottman

Emotional investment sering kali jauh lebih sulit dilepaskan dibandingkan investasi materi. Dalam sebuah hubungan, kamu telah menaruh memori, identitas, harapan, dan versi dirimu yang dibangun bersama pasangan.

Semakin dalam kamu berinvestasi, semakin sulit untuk keluar. Bukan selalu karena kualitas hubungannya baik, tetapi karena “harga emosionalnya” terasa terlalu mahal. Ini menjelaskan mengapa sebagian orang bertahan bukan lagi karena cinta, melainkan karena takut kehilangan apa yang telah dibangun.

3. Cognitive Dissonance: Leon Festinger

Cognitive dissonance terjadi ketika dua keyakinan atau pikiran kita saling bertentangan.

“Hubungan ini sudah tidak sehat.”

VS

“Tapi aku sudah terlanjur berjuang sejauh ini.”

Agar otak tidak terus berada dalam ketidaknyamanan, muncul pembenaran atau justifikasi otomatis seperti:

  • “Nanti dia juga bakal berubah kok.”
  • “Aku harus bisa lebih sabar lagi.”
  • “Perjuanganku pasti ada hasilnya.”

Justifikasi seperti ini memang memberikan kenyamanan sementara, tetapi sering kali justru membuat seseorang tenggelam semakin dalam.

4. Operant Conditioning: Intermittent Reinforcement, B.F. Skinner

Kadang seseorang bertahan karena hubungan tersebut memberikan hadiah atau penghargaan (reward) yang tidak konsisten.

Dalam ilmu perilaku, pola hadiah yang datang tidak teratur, atau intermittent reinforcement, dapat membuat suatu perilaku menjadi sangat sulit dihentikan.

Contohnya, kadang pasangan sangat manis dan perhatian, tetapi di lain waktu menjadi dingin dan seolah tidak menganggapmu ada. Pola naik turun seperti ini membuat seseorang terus berharap, “nanti pasti ada fase baiknya lagi,” meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak stabil.

Yang membuat seseorang bertahan kadang bukan kebahagiaan yang terus hadir, tetapi harapan bahwa kebahagiaan itu akan kembali.

5. Commitment and Consistency Principle: Robert Cialdini

Menurut Robert Cialdini, manusia memiliki dorongan kuat untuk terlihat konsisten dengan keputusan atau komitmen awalnya.

Jika sejak awal kamu sudah memutuskan untuk “bertahan dan berjuang”, kamu cenderung ingin membuktikan bahwa keputusan itu benar.

Inilah salah satu alasan psikologis mengapa seseorang lebih memilih menyesuaikan perilakunya dengan komitmen masa lalu daripada mendengarkan kebutuhan masa depannya.

Catatan Penting

Teori-teori di atas bertujuan membantu kita melihat dan memahami pola berpikir, bukan untuk menggantikan pertimbangan etika, tanggung jawab personal, atau kompleksitas setiap hubungan.

Ingatlah:

Kadang kamu bertahan bukan lagi karena masih ada cinta, peluang, atau harapan. Kamu bertahan hanya karena takut semua pengorbananmu terlihat sia-sia.

Padahal, yang sia-sia bukanlah apa yang sudah pernah kamu berikan di masa lalu.

Yang benar-benar sia-sia adalah ketika kamu memilih untuk tetap tinggal di tempat yang tidak lagi membuatmu tumbuh.
Berhenti bukan berarti kamu gagal.

Berhenti berarti kamu akhirnya berani memilih masa depan, bukan terus terjebak di masa lalu.
Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

1 reaksi 2 clap 1 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →