Langkah Kuda
Bacaan Ringan

Yang Mencintai Bulan

Pria yang mencintai bulan
Pria yang mencintai bulan Dokumentasi pribadi
Di bawah naungan langit malam yang merentangkan kain beludru pekat, Febrians menatap angkasa dengan kerinduan yang membakar relung dadanya. Ia adalah seorang putra bumi, makhluk yang berpijak pada tanah basah, bernapas lewat embun pagi, dan terikat oleh gravitasi kerinduan. Namun, jiwanya telah lama terbang berkelana, terpikat oleh pendar keperakan di atas awan, tempat tinggal Nona Selene, sang perawan bulan.

Nona Selene bukanlah sosok dari daging dan darah, melainkan perwujudan dari cahaya mutiara yang ditenun oleh jemari malam. Tubuhnya memancarkan kilau pualam yang dingin namun hangat secara misterius, sementara helai rambutnya terurai bagai kabut perak yang membelah kegelapan. Setiap kali bulan purnama merekah sempurna di cakrawala, Nona Selene akan berdiri di tepi telaga langit, menatap lurus ke arah bumi, tempat Febrians setia menanti.

Pertemuan mereka terjadi bukan dalam jelajah fisik, melainkan dalam jalinan benang-benang tak kasat mata. Febrians melantunkan simfoni kerinduan lewat dawai kecapinya, mengirimkan getaran melodi yang menembus amfiteater angkasa. Nona Selene membalasnya dengan menumpahkan tarian sinar rembulan di atas permukaan danau tempat Febrians bersemayam. Air danau yang tenang pun berubah menjadi cermin keabadian, tempat dua sukma yang terpisah samudra hampa saling merengkuh bayangan.

"Wahai pangeran tanah dan embun," bisik Nona Selene, suaranya bak desir angin malam yang menyapu kelopak mawar. "Mengapa engkau mencintai sosok yang hanya berupa bayang keperakan di pelataran malam? Daku adalah kesepian yang dibungkus cahaya, tak tersentuh dan tak tergapai."

Febrians tersenyum, jemarinya memetik dawai terakhir yang bergema halus di keheningan. "Sebab dalam dinginnya cahayamu, aku menemukan hangat yang tak pernah ditawarkan oleh mentari. Engkau adalah keindahan yang tak terjamah jemari, namun merajai seluruh relung jiwaku."

Suatu malam, ketika konstelasi bintang menari dalam formasi rahasia, batas antara bumi dan angkasa meluluh. Nona Selene menurunkan tangga yang ditenun dari benang aura purnama, membiarkan jemari peraknya menyentuh jemari Febrians di atas batas danau. Tak ada kata yang terucap saat dua alam saling bertaut. Dalam satu kecupan yang terukir dari pendar cahaya dan kehangatan bumi, takdir mereka melebur menjadi abadi sebuah kisah cinta yang melampaui jarak, terpatri indah di antara pijakan bumi dan keagungan bulan.
Bagikan
Respons Pembaca

Apa yang Anda rasakan?

Berikan reaksi atau tepuk tangan untuk mengapresiasi penulis.

2 reaksi 50 clap 4 dibagikan
Clap Anda: 0/50
Ruang Diskusi

Percakapan Pembaca

Tanggapi gagasan, lanjutkan percakapan, dan tetap hormati sesama pembaca.

Pilihan bacaan berikutnya

Lanjutkan Membaca

Pilihan lain dari ruang pengetahuan Langkah Kuda.

Masuk untuk personalisasi →